Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Sasando : bambu & daun lontar mengalun indah di tangan Jeremias Pah.

leave a comment »

Jeremias Pah in action. Tentu dengan topi khas NTT dan Sasando. Terdengar seperti harpa. Saya pikir daun lontar untuk menulis manuskrip kuno dan membungkus nasi kuning. Ternyata untuk main musik pun bisa. Hebat.

Ti’i Langga, topi mirip perahu menghiasi kepala pemetik Sasando yang berbusana merah khas NTT. Lagu I’m Yours – Jason Miraz dan lagu daerah Bolelebo berkumandang indah di tangan mereka. Keluarga Pah : Jeremias, Jack dan Djitron mewarisi bakat bermain alat musik berhias daun lontar tersebut.

Sasando ( bahasa Rote = ‘sasandu’ ) artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Instrumen petik ini muncul dan berkembang di Pulau Rote sejak tahun 1700-an. Tabung panjang dari bambu menjadi bagian utama Sasando. Di bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah terentang dawai dari satu tumpuan ke tumpuan lainnya dengan nada berbeda tiap petikan senar. Anyaman daun lontar seperti kipas menjadi wadah resonansinya. Jeremias dan Djitron lalu mengembangkan Sasando elektrik.

Jeremias Pah, 71 tahun, mengabdikan diri untuk melestarikan dan mempopulerkan Sasando. Kharismatik. Makin tua makin jadi. Bungsu dari dua bersaudara itu lahir 20 Oktober 1939. Ougust Pah, ayahnya, adalah pemain dan pembuat Sasando di Pulau Rote yang sering diundang memeriahkan acara hingga ke istana ( kerajaan ).

Ougust bekerja keras menghidupi keluarga dengan bertani. Di sela kesibukannya, ia mengembangkan Sasando yang semula 24 tali menjadi 32 tali. Namun, di Pulau Rote, karena transportasi sangat kurang, Sasando sulit berkembang. Juga, sulit mencari pekerjaan di sana.

Jeremias pun pindah ke Kupang. Ia bertani, membuat mebel, melaut, menjaga warung dan bermain Sasando di waktu istirahatnya. Tahun 1973, ia menikah dengan Sofia, pelanggan warung yang dijaganya. Tujuh tahun kemudian, lahirlah Hendra Pah, Teni Pah, Jack Pah dan Djitron Pah. Saat itu, Sasando belum laku, sehingga Jeremias membuat dan menjual berbagai kerajinan dari papan sisa mebel. Baru setelah tokoh masyarakat meminta Jeremias mengajari anak-anak bermain Sasando, jalan rejeki mulai terbuka. Keluarga Pah diundang ke Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ), ikut lomba dan diundang main ke mana-mana.

Sepeninggal Sofia dan Christina Daung, Jeremias menikahi Dorce yang sangat pandai membuat tenun kain daerah. Keduanya pernah ke Jepang bersama mengikuti sebuah pameran tahun 2006. Setahun kemudian, datang utusan dari Departemen Seni dan Budaya mengundang Jeremias beserta istri ke Jakarta untuk menerima uang apresiasi, gaji dan peniti emas. Tahun 2008, Jeremias mendapat piagam penghargaan Maestro dari presiden.

Perjuangan panjang membuahkan hasil membanggakan. Anda terinspirasi mengikuti jejaknya dengan alat musik khas daerah anda ?

Written by Vitra AB

12/10/2011 pada 15:22

Ditulis dalam musik tradisi

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s