Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Saman : tari dakwah hingga ke mancanegara. Saingan Sema ?

with one comment

Para pelajar sedang berlomba tari Saman dalam acara festival Muharram di TMII Jakarta. Mereka melestarikan budaya dengan busana sopan dan gerakan kompak. Bukankah mereka menawan ? Are they cute ? ( foto : herianus )

Tari tanpa diiringi alat musik ? Unik, ya. Cukup dengan tepuk tangan, gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring, gerak lengek, jadilah sebuah tari. Saman, namanya. Penari menggoyangkan badan, menghentak ke kiri atau ke kanan ketika syair dilagukan. Riang gembira.

Saman, tari tangan seribu dari dataran tinggi Gayo, Aceh Tenggara. Syeikh Saman, ulama penyebar agama Islam di Aceh yang menciptakan tari tradisional Melayu ini, sehingga dinamai Saman. Syair dalam bahasa Arab dan Aceh, memuat pesan dakwah, sindiran, pantun nasehat dan percintaan. Di Aceh Tenggara dan Tengah dikenal Saman Gayo. Di Aceh Timur, Saman Lokop. Di Aceh Barat, Saman Aceh Barat.

Dahulu, tari Saman dipertunjukkan dalam upacara Maulud Nabi Muhammad Saw dan upacara adat. Sekarang, untuk menyambut kunjungan tamu negara atau membuka acara festival.  Tari Saman diduga berasal dari tari Melayu Kuno yang menggunakan unsur dasar : tepuk tangan dan tepuk dada. Untuk memudahkan dakwahnya, Syeikh Saman mengembangkannya dengan menyisipkan syair dakwah Islam. Saat ini pun, tari ritual religius ini masih menyampaikan pesan dakwah.

Masa penjajahan Belanda, tari Saman dilarang karena dianggap magis dan menyesatkan. Namun, masyarakat Aceh tidak peduli dan terus mengembangkan. Selain di Aceh, tari Saman juga dipertunjukkan di daerah lain di Indonesia, bahkan sampai ke Singapura dan Malaysia ( luar negeri ).

Semula, belasan ( atau puluhan ) lelaki menarikannya. Perkembangan selanjutnya, Saman ditarikan oleh lelaki dan perempuan, berjumlah ganjil, sekitar 11 orang. 8 penari dan 2 orang pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Satu orang lagi, Syeikh yang mengatur gerakan penari dan menyanyikan syair Saman.

Penari Saman berkostum khas Aceh : bulang teleng di kepala, penutup leher dan gelang di pergelangan tangan. Mereka duduk berbaris memanjang ke samping dengan lutut di tekuk. Syeikh duduk di tengah, di antara penari. Gerakan dan lagu terlihat dinamis, sinkron dan kompak. Di awali gerakan lambat, tepuk tangan, tepuk dada dan paha, mengangkat tangan ke atas secara bergantian. Makin lama makin cepat dan ..

Selamat terpesona..

Written by Vitra AB

13/08/2011 pada 18:12

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. menakjubkan juga..

    reza

    22/11/2011 at 18:13


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s