Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Keris : morfologi, bagian dan bahannya. Bertatahkan emas dan berlian. Tak kalah dengan ponsel fashion.

with one comment

Lihat liukan emas di bilah keris ini ? Rumit dan indah. Pantas menghadap raja dengan keris seindah ini, kan ? ( di pinggang belakang demi keselamatan raja ) ( foto : kaskus )

Keris atau dhuwung terdiri tiga bagian utama :  bilah ( wilah atau daun keris), ganja ( penopang ) dan hulu keris (ukiran, pegangan keris). Hulu keris dapat terpisah atau menyatu dengan bilah. Ganja tidak selalu ada, tapi keris-keris yang baik selalu memilikinya. Keris sebagai senjata dan alat upacara dilindungi sarung keris atau warangka.

Morfologi keris yang harus diperhatikan adalah kelokan (luk), ornamen (ricikan), warna ( pancaran bilah ) dan pola pamor. Kombinasinya menghasilkan sejumlah bentuk standar (dhapur) keris dalam pustaka keris. Waktu mempengaruhi gaya pembuatan, tercermin dari konsep tangguh, terkait periodisasi sejarah, geografis dan empu pembuatnya.

Hulu keris Bali bermotif dewa, pendeta, raksasa, penari, pertapa hutan, dengah ukiran kinatah emas dan bertatahkan batu mirah delima. Hulu keris Sulawesi bermotif burung laut, lambang profesi pelaut yang banyak ditekuni masyarakat Sulawesi ( burung lambang dunia atas keselamatan ). Hulu keris Riau Lingga bermotif kepala burung. Hulu keris Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Bahannya dari gading, tulang, logam, dan kayu. Hulu keris Jawa, terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) weteng dan bungkul.

Warangka, atau sarung keris ( bahasa Banjar : kumpang ), terbuat dari kayu  jati, cendana, timoho, kemuning dan gading. Dua bentuk warangka :  wrangka ladrang  (  terdiri dari angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri dan cangkring ) dan wrangka gayaman (gandon, terdiri dari lata, janggut, gandar, ri dan cangkring ). Wrangka ladrang untuk upacara resmi ( menghadap raja, penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll), diselipkan di di lipatan sabuk (stagen) pinggang belakang ( pertimbangan  keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman untuk keperluan harian dan perang ( karena praktis, cepat, mudah bergerak dan bentuknya sederhana ), diselipkan di depan ( dekat pinggang ) atau pinggang belakang.

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

01/08/2011 pada 02:19

Ditulis dalam senjata tradisional

Tagged with ,

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. yuk apresiasi

    Iskandar Zulkarnaen

    15/08/2011 at 15:03


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s