Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Golek Gambyong : nafkahi istri atau digoda pria lain.

leave a comment »

Tarian seperti film atau teater. Ada pesan moral di dalamnya. Pernah terinspirasi ? ( foto : rocketflip )

Golek Gambyong, menjadi satu-satunya tari klasik Yogyakarta jenis Golek berbentuk kelompok. Tari Golek Gambyong, bersumber tari Klono Alus ( abad 19 ). Sepintas Golek Gambyong menggambarkan perselisihan. Saat dibuat terjadi pergolakan antara Sultan Hamengku Buwana VII, Pangeran Suryengalaga dan Belanda.

Golek Gambyong diciptakan KGPA Mangkubumi, ditarikan 3 penari yang berperan sebagai putri Golek, mas Gambyong dan Canthang Balung. Keunikan tari Golek Gambyong : ada peran Canthang Balung dari Keraton Kasunanan Surakarta.

Secara umum, Gambyong adalah tari tunggal di Surakarta. Di Yogyakarta, Gambyong adalah peran di Golek Gambyong. Golek ( bahasa Jawa = mencari ) adalah wanita bersuami. Sedangkan, Gambyong adalah nama suami Golek yang malas, tak menafkahi istri. Hanya bisa bersenang : ingin hidup enak tapi tak mau bekerja. Gerak Gambyong bernuansa komikal. Kostumnya : celana cindhen dengan model panji, kain batik motif parang dengan model sapit urang, sabuk bara dengan kamus dan timang, berbaju beludru tanpa lengan, sampun gendalagiri, ikat kepala dengan destar, bermodal nyinting asu nguyuh, kalung tanggalan, kelat bahu model ngangrangan, keris model gayaman dan memakai kerincing di kakinya.

Canthang Balung, tokoh antagonis dalam Golek Gambyong. Berbekal tombak, tameng, pedang, keris, senapan dan gada, Canthang berusaha merayu Golek. Kostumnya :  celana model panji, kain batik model sapit urang, sabuk bara dan kamus timang, baju lengan panjang, hiasan kepala berbentuk topi model pacul gowang, kalung tanggalan, buntal, oren, keris model gayaman, berkaos kaki dan memakai giring-giring.

Penari Golek Gambyong semuanya remaja putra yang berpostur kecil dan berotot tangan halus. Penonton diharapkan mencari makna tarian dari tiap peran. Struktur gerak : maju beksan, inti beksan, mundur beksan. Busana cenderung lebih tertutup : seredan, baju dan jamang elar ( ikat kepala dihias bulu menthog ).

Gambyong Pareanom dan Klono Alus. Menyambut dan menghibur.

Gambyong Pareanom, tari penyambutan tamu yang berkembang menjadi tari hiburan. Karena sudah diwirengkan,  maka kostum kemben diganti mekak dengan jamang, berwarna hijau kuning ( pareanom = padi muda ). Tarian ini berkembang pada masa Mangkunegara VII, ditarikan 7 penari dari Langenraja Puro Mangkunegaran. Di Pendopo Besar Mangkunegaran, digelar Kemilau Mangkunegaran Performing Arts.

Tari Klono Alus Jungkungmandeya, diadaptasi dari kisah Mahabarata yang menggambarkan pangeran muda Jungkungmandeya jatuh cinta pada Srikandi. Topeng Klono Alus, tari yang diadaptasi dari cerita Panji ( abad ke-15 ), menggambarkan pangeran muda Gunungsari  jatuh cinta pada Ragil Kuning.

Banyak pesan moral dan inspirasi kehidupan bisa kita petik dari tari tradisional. Tari apa yang sudah menggugah anda ?

Written by Vitra AB

14/07/2011 pada 14:37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s