Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Golek, Gambyong, Golek Gambyong, Gambyong Pareanom dan Klono Alus. Pesan moral komikal. Pernah nonton ?

leave a comment »

Gambyong Pareanom, tari penyambutan tamu yang berkembang menjadi tari hiburan. Tujuh penari berkostum hijau kuning ( warna khas Mangkunegaran ) menghibur hadirin di gelaran Kemilau Mangkunegaran Performing Arts. Mereka cantik, kan ? ( foto : jogjaethnic )

Satu lagi, tari dari keraton. Golek, kesenian adiluhung ( adi = indah, luhung = agung ) yang ditonton antusias masyarakat Solo dan turis mancanegara pada gelaran Mangkunegaran Performing Art tahun ini. Di Jawa Barat, kita kenal Wayang Golek. Ternyata ini Golek yang lain.

Golek dari Yogyakarta, pertama dipentaskan di Surakarta, saat perkawinan KGPH Kusumoyudho dan Gusti Ratu Angger ( 1910 ). Lalu, disesuaikan dengan gaya Surakarta. Tari ini menggambarkan cara berhias  gadis yang baru menginjak akhil baliq, agar lebih cantik dan menarik. Macamnya : Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang, Golek Montro iringan Gendhing Montro, Golek Surungdayung iringan Gendhing Ladrang Surungdayung, dll.

Tari Golek, menampilkan daya tarik dan keindahan perempuan mempercantik diri. Golek adalah gadis remaja yang suka berbedak, berhias, bersolek, berkaca, dsb. Dulu ditarikan oleh remaja putra yang berperawakan kecil dan berparas cantik. Lahir di lingkungan istana, dengan gaya “ledek” yang merakyat, penuh stilasi dan elegan. Beksan Golek Lambang Sari dan beksan Golek Asmaradhana,  yang bernama seperti gendhing yang mengiringinya.

Semula tari Golek, satu-satunya tari tunggal puteri yang dipertunjukkan. Dikaitkan dengan opera tari ”Langendriya”. Golek berarti mencari ( bahasa Jawa ). Mencari jati diri, kepribadian penari. Perkembangan kemudian, disajikan secara kelompok. Tokoh dalam pengembangan tari ini : K.R.T Purbaningrat, K.R.T Cakraningrat, K.R.T. Purwanegara.

Pakar tari yang menciptakan tari Golek berikutnya : GBPH Puger, RM Dinusatama dan KRT Sasmintadipura ( Rama Sas ). Namun, tak satu pun yang terkait Langendriya. Durasinya lebih singkat, semula 1-1,5 jam menjadi 3-20 menit. Golek Retno Adaninggar, ditampilkan dengan gaya Golek Menak yang diadaptasi dari Wayang Golek. Retno Adaninggar, seorang putri China, bersiap ke medan tempur setelah orang-orang terkasih ditangkap musuh.

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

13/07/2011 pada 16:00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s