Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Tiji Tibeh, Tri Darma : berani bertindak, berani bertanggung jawab.

leave a comment »

Oops .. apa saya salah ambil gambar ? ini aksi Bima melawan Duryudana dalam pertunjukkan wayang kulit. Tampaknya, penari wireng bergaya dan berkostum tak jauh beda. Kisah dalam wireng sebagian diambil dari kisah pewayangan. Pantas saja.( foto : punakawan-suroboyo )

Wireng berasal dari kata “wira” ( perwira, prajurit, sakti ) dan “ing” ( penyangkat ), atau “aeng” ( prajurit unggul yang ‘aeng’ dan ‘linuwih’ ). Dalam bahasa sansekerta berarti pemberani, pahlawan, prajurit berani. Sedangkan, beksan berasal dari kata baksa ( babaksan, ababaksan ) yang berarti menari.  Jadi, beksan wireng berarti tarian bertema olah kaprajuritan, perang dan kepahlawanan. Tari ini semula diciptakan pada masa Prabu Amiluhur agar para putranya tangkas olah keprajuritan dengan senjata perang. Cirinya : ditarikan dua orang putra/i, tanpa dialog dan cerita, bentuk tari dan kostum sama, saat perang tanding iramanya pelan dan kencang ( tanpa gending, sampak/ srepeg ), gending satu atau dua ( gending ladrang lalu ketawang ), tak ada yang kalah/ mati. Namun, kemudian ketika kadipaten Mangkunegaran didirikan, tari berbentuk wireng makin banyak diciptakan.

Perjuangan Raden Mas Said melawan VOC selama 16 tahun dibantu 18 pemimpin pasukan yang setia dan andal, yaitu :  Jayawiguna, Jayautama, Jayapramea, Jayawilanten, Jayasutirta, Jayanimpuna, Jayaprabata, Jayasantika,  Jayapuspita, Jayasudarga, Jayasudarma,  Jayadipura, Jayaleyangan, Jayajagahulatan, Jayaalapalap, Jayapanamur,  Jayapamenan dan Jayapanantang. Raden Mas dengan para ksatria pejuang ini berikrar “Tiji Tibeh” ( mati siji mati kabeh ), yang artinya mati satu mati semuanya.  Kemenangan pun diraih beruntun sampai Raden Mas dijuluki Pangeran Sambernyawa. VOC Belanda kewalahan, karena pasukan Sambernyawa sulit ditaklukkan dan sulit diajak berunding.

Paku Buwana III, tahun 1757 M, meminta Raden Mas berhenti bertempur dan kembali ke sisinya. Satu monumen didirikan, berbentuk candra sangkala, bertahun 1682, berbunyi Mulat Sarira Hanyasa Wani. Tahun 1683, Pangeran Sambernyawa dinobatkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I di kadipaten praja Mangkunegaran. Kenangan prasetya ini menjadi Tri Darma yang berbunyi : Mulat sarira hangrasa wani.
Rumangsa melu handarbeni. Wajib melu banggondeli. Artinya : mawas diri, berani membela kebenaran, berani menderita, berani bertanggung jawab, berani wibawa dan hidup sejahtera. Praja hasil perjuangan bersama, maju mundurnya praja tanggung jawab bersama. Pemimpin dan rakyat sejiwa ( serumpun tebu ), wajib menjaga dan mempertahankan cita-cita luhur tata kehidupan dan perilaku bermasyarakat.

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

10/07/2011 pada 16:20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s