Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Beksan Wireng dalam Serat Centhini. Ensiklopedi budaya Jawa.

leave a comment »

Tari ( beksan ) Wireng menjadi ajang orang Mangkunegaran berlatih menggunakan senjata perang. Di film laga masa kini, adegan perkelahian diiringi efek suara yang mendebarkan dari teknologi modern. Gendhing melakukan hal itu pada masa lalu untuk memikat penonton. Penasaran ? ( foto : webtvlive )

Serat Centhini disusun atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Mangkunagara III, putra Sinuhun Paku Buwana IV ( 1788 – 1820 ), yang kelak bergelar Sinuhun Paku Buwana V ( 1820 — 1823 ), juga disebut Sunan Sugih. Serat Centini disusun Sabtu Pahing, 26 Sura tahun 1742 ( Paksa Suci Sabda Ji ) atau tahun 1814 M. Kemudian dinamakan Suluk Tambangraras. Centhini dari nama cethi ( pembantu ) dan Niken Tambangraras ( istri Seh Amongraga ). Pangeran Adipati Anom membeli Suluk Jatiswara ( 1711 Jawa = Jati Tunggal Sawara Raja ) pada masa Paku Buwono III.

Dalam Serat Centhini, kehidupan Jayeng Resmi ( Seh Amongraga ) menjadi pusat cerita. Para ahli dilibatkan untuk menulis bab agama, kebatinan, ilmu kasampurnan, kasekten, kanuragan, pengasihan, hubungan seks, perhitungan primbon, iladuni, pakuwon, perhitungan musim, sesaji, adat istiadat, berziarah, petilasan, peninggalan kuno, kesusasteraan, dongeng, babad, keris, ciri kuda, burung, rumah ( arsitektur tradisi ), karawitan, gending, tari, tetumbuhan, pertanian, jampi-jampi, lelucon dan sindiran. Gunung, goa, pesisir dan sejenisnya dibicarakan secara luas, panjang lebar, dalam dan menarik  berdasarkan laporan para bupati pesisir. Adipati Anom ikut menggarap dan memeriksa Serat Centhini, yang saking lengkapnya sampai disebut ensiklopedi kebudayaan Jawa.

Data Beksan Wireng tercantum di Serat Centhini ( pupuh sinom 15-20 ). Sejak jaman Jenggala – Kediri ( abad ke-11 ) ada 6 jenis tari wireng, yaitu :

  1. Panji Sepuh, tari tunggal ciptaan Prabu Suryawisesa ( penguasa kerajaan Jenggala ) yang ditarikan dengan iringan gendhing Boyong Bodronaya.
  2. Panji Anem ( muda ), tari berpasangan ciptaan Suryawisesa, dengan sampur, diiringi gendhing Ladrang Sobrang laras pelog barang.
  3. Dhadhap Kanoman, tari berpasangan ( 2 pasang penari ) ciptaan Suryawisesa, dengan senjata dhadhap dan keris, diiringi gendhing Ladrang Rangsang Tuban.
  4. Jemparing Ageng, tari berpasangan ciptaan Suryawisesa, dengan gendewa dan panah, diiringi Ladrang Lengker.
  5. Lawung Ageng karya Raden Kalang ( saudara raja Suryawisesa ), ditarikan sepasang penari, dengan tombak, diiringi gendhing Ladrang Remeng.
  6. Dhadhap Kreta karya Raden Wirun, ditarikan 2 pasang penari, dengan dhadhap dan keris, diiringi gending Ladrang Segaran laras pelog.

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

08/07/2011 pada 16:05

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s