Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Tari Bedhaya : klasik, halus, simbolis. Mengangkat martabat wanita dan Indonesia.

leave a comment »

bedhaya_kotamanusia_mipa.uns

Tari Bedhaya Ketawang dalam acara Jumenengan ke-5 Pakubuwono XIII di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 7 penari menjadi 9 penari Bedhaya sesuai jumlah Wali Songo. Bedhaya Ketawang ( 130 menit ), sedangkan Bedhaya To-lu ( 12 menit ). Silakan sesuaikan dengan waktu anda untuk mengagumi tarian anggun ini. ( foto : mipa.uns, AgoesR )

Tarian menyertai perkembangan pusat baru. Pada jaman kerajaan, mencapai tingkat estetis tinggi, dengan standar rumit, halus dan simbolis. Pengaruh India terlihat pada posisi tangan, pengaruh Bali terlihat pada gerak mata. Tarian ciptaan para raja Jawa berbentuk teater, seperti Wayang Orang dan Bedhaya Ketawang. Pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang diciptakan raja Mataram ketiga, Sultan Agung ( 1613-1646 ), berlatar mitos percintaan raja Mataram I ( Panembahan Senopati ) dengan Kangjeng Ratu Kidul ( penguasa laut selatan/ Samudra Indonesia ) ( Soedarsono, 1990 ).

Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk Majapahit. Tari Bedhaya yang semula ditarikan 7 penari kini ditarikan 9 penari,  sesuai jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga ini sampai Mataram Islam,  sejak perjanjian Giyanti ( 1755 ) antara Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. Sunan Pakubuwono I  menamakannya Bedhaya Ketawang ( Bedhaya suci dan sakral ) dengan nama peran : Endhel Pojok, Batak, Gulu, Dhada, Buncit, Endhel Apit Ngajeng, Endhel Apit Wuri, Endhel Weton Ngajeng, Endhel Weton Wuri

Tari Bedhaya yang belum berubah : Bedhaya Ketawang ( 130 menit ), Bedhaya Pangkur ( 60 menit ), Bedhaya Duradasih ( 60 menit ), Bedhaya Mangunkarya ( 60 menit ), Bedhaya Sinom ( 60 menit ), Bedhaya Endhol-endhol ( 60 menit ), Bedhaya Gandrungmanis ( 60 menit ), Bedhaya Kabor ( 60 menit ) dan Bedhaya Tejanata ( 60 menit ). Tari Bedhaya Ketawang untuk menjamu tamu raja dan Nyi Roro Kidul. Tari Bedhaya lainnya bertema pahlawan dan monumental.

Tari, juga sering juga disebut “beksa” ( ambeg, esa ). Tari Bedhaya ( juga Serimpi ) yang relatif lama ini bisa dikreasi untuk konsumsi masa kini, tanpa mengurangi ciri dan kualitasnya, seperti : Bedhaya La-la ( 15 menit ), Bedhaya To-lu ( 12 menit ), Bedhaya Alok ( 15 menit ). Bedhaya dan Serimpi melahirkan tari klasik seperti Beksan Gambyong ( berasal dari tari Glondrong yang ditarikan Nyi Mas Ajeng Gambyong ). Kecantikan Nyi Mas Ajeng Gambyong, keindahan tariannya, kemerduan suaranya membuat bangsawan Kasunanan Surakarta memintanya menari di istana dan mengajari putra putri raja. Keraton kemudian mengubah tari Glondrong menjadi tari Gambyong.

Kecantikan, tarian indah dan suara merdu bisa mengangkat status seorang wanita di tempat terhormat. Kita harap seni tradisi yang dikreasi dengan indah bisa mengangkat martabat Indonesia di mata dunia internasional. Mari sama-sama berusaha dengan keahlian masing-masing ke arah itu. Ayo.

Written by Vitra AB

30/06/2011 pada 16:41

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s