Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Mau pesan Calung Rantay atau Calung Jinjing ? Semua ada, kumpliit ..

leave a comment »

Calung Rantay, dimainkan dengan cara dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersila. Sudah dilengkapi vokal sehingga lebih seru untuk dinikmati. Pernah nonton yang seperti ini ? ( foto : azitha )

Giliran sekarang, Calung diperkenalkan. Yang suka lihat atraksi canda ala Sunda, pasti kerap melihat alat musik  yang satu ini. Iya, Calung  itu alat musik tradisionalnya  urang Sunda. Prototype ( purwarupa ) – nya  angklung. Calung dimainkan dengan memukul bilah bambu yang tersusun menurut tangga nada ( titi laras ) pentatonik ( da-mi-na-ti-la ). Bahannya dari dari awi wulung ( bambu hitam ) dan awi temen ( bambu putih ). Ada dua bentuk calung yang dipertunjukkan, yaitu Calung Rantay dan Calung Jinjing. Apaan tuh ?

Bilah tabung Calung Rantay  berjumlah tujuh wilahan ( 7 ruas bambu, atau lebih ) yang dideretkan dengan tali kulit waru ( lulub ). Dari yang terbesar sampai yang terkecil.  Ada yang satu deret, ada yang dua deret  ( calung indung dan calung anak/ rincik ). Calung ini dimainkan dengan cara dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersila. Calung diikat di pohon atau bilik rumah, seperti Calung Rantay Banjaran – Bandung. Atau diberi dudukan khusus ( ancak ) dari bambu atau kayu, misalnya Calung Tarawangsa di Cibalong, Cipatujah, Tasikmalaya, Banjaran dan Kanekes / Baduy.

Sedangkan, Calung Jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu ( paniir ). Calung ini terdiri empat atau lima set, seperti Calung Kingking ( terdiri 12 tabung bambu ), Calung Panepas ( 5 /3 dan 2 tabung bambu ), Calung Jongjrong  ( 5 /3 dan 2 tabung bambu ) dan Calung Gonggong  ( 2 tabung bambu ). Dalam perkembangannya, pertunjukan Calung  sering hanya dilengkapi satu Calung Kingking, dua Panempas, satu Calung Gonggong, tanpa  Calung Jongjrong. Seperangkat  Calung yang dijinjing tangan kiri ini, dipukul dengan pemukul di tangan kanan dengan teknik  melodi, keleter, kemprang, kempyung, raeh, rincik, rangkep ( diracek ), salancar, kotrek dan solorok.

Mahasiswa berkreasi, Calung pun meroket.

Yang ini lebih ngetop lagi. Calung Jinjing namanya. Pasnya untuk mengiringi bobodoran ( canda ) Sunda. ( foto : ruanginfo ).

Publik lebih mengenal Calung Jinjing, seperti orang Sunda di daerah Sindang Heula – Brebes, Jawa Tengah. Di Jawa Barat sendiri, Calung dipopulerkan mahasiswa Universitas Padjadjaran (  Unpad  ), tepatnya anggota Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa ( lembaga kesenian Unpad  ) yang mengkreasikan Calung ini ( 1961 ). Ekik Barkah,  salah seorang perintis, mengatakan, pengemasan Calung diilhami pertunjukan Reog yang memadukan unsur tabuh, gerak dan lagu.

Tahun 1963,  anggota  Studi klub Teater Bandung ( STB, Koswara Sumaamijaya, dkk) memperkaya pertunjukan Calung. Tahun 1964 – 1965, Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K, Enip Sukanda, Edi, Zahir, dkk, lebih memasyarakatkan Calung sebagai seni pertunjukan yang bersifat hiburan dan penyuluhan.  Grup Calung SMAN 4, Bandung ( Abdurohman, dkk ), juga. Lalu, muncul  grup Layung Sari, Ria Buana,  Glamor ( 1970 ), dll. Tajudin Nirwan, Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos dan Hendarso menjadi  idola.

Saking pesatnya perkembangan Calung  di Jawa Barat, berbagai alat musik lain pun ditambahkan ;  kosrek, kacapi, piul ( biola ), keyboard, gitar dan vokal. Jadilah, Calung plus plus. Bungkus !

Written by Vitra AB

19/06/2011 pada 15:01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s