Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Gamelan Sunda bernama Degung. Penghormatan bagi yang agung.

leave a comment »

Seperangkat gamelan degung. Kita sering melihatnya ketika mengiringi tarian, lagu dan pertunjukan wayang. Ternyata dahulu, degung hanya milik para bangsawan dan pejabat tinggi. Kini, setelah merakyat, kita hargai dengan mendatangi pertunjukannya. Lebih jempolan lagi, kalau mempelajari dan mengembangkannya.

Indonesia, negeri indah terbentang dari Sabang sampai Merauke. Aceh hingga Papua. Berpenduduk lebih 237 juta penduduk  di lebih 17 ribu pulau. Seni tradisi kemudian lahir menjadi jati diri dan diekspresikan masyarakat pendukungnya. Salah satunya, seni musik tradisional. Unik dari segi teknik permainan, penyajian juga organologi instrumennya. Seperti, gamelan, arumba, kendang, kolintang, tifa, talempong, rebana, bedug, jimbe, dsb. Mari mempelajari khasanah budaya kita. Sebelum ( dan jangan sampai ) diklaim negara lain.

Mulai dari gamelan, instrumen logam yang berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Bali. Seperangkat gamelan biasanya terdiri ;  saron, demung, gong, kenong, slenthem, bonang, dll, yang bernada pentatonis. Degung mirip Gangsa di Jawa Tengah, Gong di Bali atau Goong di Banten. Sama2  gamelan.

Asal kata degung.

Degung semula nama waditra berbentuk 6 gong kecil yang digantung pada kakanco ( rancak/ancak ). Bende renteng  atau jenglong  gayor. Gamelan Degung mulanya berlaras Degung, lalu ditambah nada sisipan menjadi laras lain ( laras Madenda/ Nyorog atau laras Mandalungan/ Kobongan/ Mataraman ). Degung adalah juga nama laras bagian salendro. Laras degung terdiri dari degung dwiswara ( tumbuk ) : ( mi ) 2 – ( la ) 5  dan degung triswara : 1 (da), 3 (na) dan 4 (ti). Kata “degung” diperkirakan berasal dari kata “ngadeg” ( berdiri ) dan “agung” ( megah )  atau “pangagung” ( menak, bangsawan ). Degung, kesenian yang mengangkat martabat bangsawan.

E. Sutisna, nayaga Degung Parahyangan, menghubungkan kata “degung” karena gamelan ini dulu hanya dimiliki para pangagung ( bupati ). Istilah “degung” muncul tahun 1879 dalam kamus susunan H.J. Oosting. Kata “De gong” ( gamelan, bahasa Belanda ) dalam kamus tsb artinya “penclon-penclon yang digantung”. Gamelan degung di keraton Kasepuhan dan gamelan degung Pangasih di Museum Prabu Geusan Ulun ( Sumedang ) termasuk yang paling antik. Peninggalan Pangeran Kusumadinata ( Pangeran Kornel ), bupati Sumedang ( tahun 1791—1828 ).

Bandung paling banyak degungnya.

Gamelan Salendro, Pelog dan Degung terus berkembang di Jawa Barat. Gamelan Salendro digunakan mengiringi pertunjukan wayang, tari, kliningan, jaipongan, dll. Seni karawitan Sunda menggunakan perangkat gamelan berlaras degung ( umumnya berlaras pelog ), terdiri atas saron, panerus, bonang, jengglong, gong, kendang, goong, dan suling. Berawal dari karawitan gending, degung terus berkembang dari jaman ke jaman.

Akhir abad 18, degung mulai berkembang. Jaap Kunst dalam bukunya “Toonkunst van Java” ( 1934 ) mencatat : degung ada di Bandung ( 5 perangkat ), Sumedang ( 3 perangkat ), Cianjur ( 1 perangkat ), Ciamis ( 1 perangkat ), Kasepuhan ( 1 perangkat), Kanoman ( 1 perangkat ), Darmaraja ( 1 perangkat ), Banjar ( 1 perangkat ) dan Singaparna ( 1 perangkat ). Masyarakat Sunda dari kerajaan Galuh ( terletak di hulu sungai ) mempengaruhi seni degung, diantaranya terdengar pada lagu Manintin, Galatik Manggut, Kintel Buluk dan Sang Bango. Kebiasaan marak lauk masyarakat Sunda diringi  gamelan renteng yang berkembang ke gamelan degung.

Perempuan jadi nayaga degung. Degung pun konsumsi publik.

Rahmat Sukmasaputra memelopori degung dengan nayaga wanita. Menurut Enoch Atmadibrata, degung wanita juga dipelopori  anggota Damas ( Daya Mahasiswa Sunda ) sekitar tahun 1957, di bawah asuhan Sukanda Artadinata ( menantu Oyo ). Tahun 1958, pagelaran degung membentuk sekar gending, lagu Ageung diberi rumpaka, melodi lagu dan bonang  disejajarkan kecuali untuk nada tinggi dan rendah yang tak dicapai sekar. Kreasi dalam sekar, tari, wayang menjadikan degung hari ini. Gamelan degung dirasa cukup mewakili kekhasan Jawa Barat. Dilihat dari bentuk dan intervalnya, gamelan degung yang kini berkembang, berorientasi pada gamelan Renteng.

Dulu, gamelan degung ditabuh secara gendingan ( instrumental ). Bupati Cianjur, RT Wiranatakusumah V ( 1912—1920 ) melarang degung dengan nyanyian karena suasana menjadi kurang khidmat. Setelah diangkat menjadi bupati Bandung ( tahun 1920 ), beliau memboyong gamelan degung dari pendopo Cianjur ke pendopo Bandung, berikut para nayaga pimpinan Idi. Gamelan degung bernama Pamagersari ini memukau saudagar Pasar Baru Bandung keturunan Palembang, bernama  Anang Thayib. Ia tertarik menggunakannya dalam acara hajatan dan memohon ijin pada bupati sekaligus sahabatnya itu. Sejak itu, degung digunakan untuk perhelatan umum.

Nano S  kemudian memasukkan unsur waditra kacapi dalam degungnya, membuat intro dan aransemen sendiri. Lagu degungnya seperti Panglayungan ( 1977 ), Puspita ( 1978 ), Naon Lepatna ( 1980 ), Tamperan Kaheman ( 1981 ), Anjeun (1984 ) dan Kalangkang, yang dinyanyikan Nining Meida dan Barman Syahyana (1986 ) sukses di pasaran. Lagu Kalangkang lebih populer lagi setelah dinyanyikan Nining Meida dan Adang Cengos dalam gaya pop Sunda, sekitar tahun 1987. Di masa awal ( tahun 1950-an ), penyanyi degung berasal dari kalangan penyanyi gamelan salendro pelog ( pasinden, ronggeng ). Sejak 1970-an, para penyanyi degung kebanyakan berasal dari kalangan mamaos ( tembang Sunda Cianjuran), seperti Euis Komariah, Ida Widawati, Teti Afienti, Mamah Dasimah, Barman Syahyana, Didin S. Badjuri, Yus Wiradiredja, Tati Saleh.

Degung dalam gaya pop Sunda. Bule pun suka degung.

Ini bule, kok lebih jago main gamelan dari saya ? Iya, deh, saya kuasai pengetahuan tentang gamelan dan seni tradisi Indonesia lainnya. Supaya impas. Malu, nih, kalau sampai kalah tahu. ( foto : findallvideo )

Lagu-lagu degung di antaranya: Palwa, Palsiun, Bima Mobos ( Sancang ), Sang Bango, Kinteul Bueuk, Pajajaran, Catrik, Lalayaran, Jipang Lontang, Sangkuratu, Karang Ulun, Karangmantri, Ladrak, Ujung Laut, Manintin, Beber Layar, Kadewan, Padayungan. Lagu-lagu degung baru yang digarap dengan pola rerenggongan di antaranya : Samar-samar, Kembang Ligar, Surat Ondangan, Hariring Bandung, Tepang Asih, Kalangkang, Rumaos, Bentang Kuring.

Di luar negeri, degung dikembangkan oleh perguruan tinggi seni dan beberapa musisi, seperti  Lingkung Seni Pusaka Sunda University of California ( Santa Cruz, USA ), musisi Lou Harrison ( US ), dan Rachel Swindell bersama mahasiswa lainnya di London ( Inggris ), Paraguna ( Jepang ), serta Evergreen, John Sidal ( Kanada ). Di Melbourne, Australia, ada set gamelan degung milik University of Melbourne yang sering digunakan komunitas pencinta musik Sunda untuk latihan dan pementasan festival.

Indonesia memang kaya akan musik tradisionalnya. Anda suka degung ? Terus jaga dan lestarikan, ya ..

Written by Vitra AB

01/06/2011 pada 18:45

Ditulis dalam musik tradisi

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s