Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Sunta Atmaja : guru, wartawan, penulis Sunda. Maju dari pintu kebudayaan.

leave a comment »

Menggelitik. Dalam banyak tayangan, orang Sunda digambarkan lucu, lugu, dan rancu melafalkan huruf F, V, P, X. Sebagian menyayangkan citra 'tertinggal' itu dan menduganya sebagai salah satu penyebab sebagian orang Sunda kurang bangga dengan kebudayaannya sendiri. Padahal di mana pun di dunia, kemajuan dimulai dari kebanggaan akan bahasa dan budaya sendiri. Siapa yang mau mulai menampilkan Sunda yang cerdas dan elegan ?

Mempelajari bahasa asing bukan berarti tidak peduli bahasa ibu. Pengetahuan berbagai bahasa bisa digunakan untuk mengembangkan bahasa ibu. Demikian yang dialami Sunta Atmaja, peraih penghargaan Hardjapamekas 2010. Guru Bahasa Sunda SDN Mulyasari I UPTD TK, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang ini mulai aktif membantu koran Sunda “Giwangkara” sejak 1998. Ia mendalami bahasa Sunda plus tata bahasanya. Sunta memegang beberapa rubrik seperti kegunaan tanaman untuk obat.

Sejak aktif menulis, Sunta merasa kurang referensi. Maklum, orang Sunda jarang mengunakan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari. Banyak anak muda malu mengunakannya. Sunta lalu tergerak menulis “Kamus  Sunda-Indonesia” dan “Kamus Basa Sunda Wewengkon Karawang”.  Belum cukup, Sunta juga menulis kamus yang menerangkan idiomatika bahasa yang ada di Indonesia, termasuk bahasa Sunda. Ia menyusun data yang dikumpulkan selama 12 tahun mendalami bahasa Sunda.

Buku idiomatika basa Sunda yang ditulisnya, juga berisi babasan ( ungkapan ), paribasa ( peribahasa ), kecap-kecapan ( pepatah ) dan gaya basa. Meski aktif sebagai penulis buku dan wartawan, Sunta berusaha tetap maksimal menunaikan tugas utamanya sebagai pengajar. Prinsipnya, meski tak kaya harta, yang penting kaya ilmu.  Satu dari segelintir manusia yang peduli kebudayaan Sunda.

Orang Jepang dan Thailand, begitu bangga dengan bahasa ibunya. Kemandirian berbahasa ( punya bahasa dan tulisan sendiri ) menunjukkan penghargaan tinggi terhadap diri sendiri dan leluhur. Ciri bangsa yang besar. Syukurlah bangsa Indonesia sebagian besar sudah berbahasa Indonesia dan cukup bangga menggunakannya. Namun di skup lokal, provinsi Jawa Barat, sudahkah kita menghargai diri dan para pendahulu kita ? Jika ingin menjadi provinsi termaju di Indonesia, masuklah dari pintu kebudayaan. Majukan bahasa dan budaya Sunda.

Written by Vitra AB

31/10/2010 pada 19:01

Ditulis dalam bahasa, guru, penulis

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s