Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Rinne Ladiva : merias pengantin & mendesain kebaya tradisi. Hobi ditekuni, klien mancanegara berdatangan.

leave a comment »

Cantik nan anggun, itulah Ladiva. Seni tradisi yang ditekuni sungguh2 membuat orang luar negeri terkagum-kagum. Apalagi bangsa sendiri. Mestinya.

Rinne lulusan Fakultas Hukum Unpar yang ‘membelot’. Suka berdandan, dan mempercantik orang. Jadilah ia perias pengantin dan perancang kebaya sang ratu sehari. Di tangannya, badan seseorang yang agak gemuk terlihat lebih langsing. Piawai.

Badannya sedikit berisi, tetapi wajahnya memancarkan kecantikan dan kebahagiaan. Hari itu, Rinne Ladiva ( 35 ) mengenakan gaun bergaya harajuku biru. Berornamen unik dengan make up senada. Ditemui di Gallery Wedding Ladiva kawasan Karang Tineung, Bandung, Rinne baru 3 minggu pasca bersalin anak kedua.”Makanya jadi padat begini, nih,”ujarnya sambil memperbaiki duduknya dan mulai membuka percakapan.

Sering keluar masuk salon, Rinne akhirnya memilih membuka salon sendiri. Tahun 2001 Rinne mulai dengan fasilitas sangat minim, hanya 6 kursi. Namun, karena Rinne hobi sekali dengan urusan menata, meski fasilitas minim, salon ini ditata sedemikian rupa sehingga memberi efek yang bersih, ramah, dekat dan hommy. Setelah 7 tahun menjalani usaha salon dengan fasilitas terbatas, Rinne mulai berpikir untuk fokus pada rias dan desain busana pengantin. Rinne selalu senang dan bangga bila dapat mempercantik dan membuat ‘pangling’ seseorang. Apalagi pernikahan merupakan hari yang sangat bersejarah. Puas rasanya kalau bisa membuat orang terkesan, katanya.

Merias pengantin seraya berkebaya. Cantik nan anggun.

Bagi Rinne, setelah dirinya merasa puas dan nyaman dengan dandan, selalu muncul keinginan untuk mempercantik orang lain. Baginya, mengenakan kain dan kebaya saat merias, sudah menjadi hobi dan trade mark Rinne. Dari kebiasaan itu, banyak teman dan klien yang ingin dibuatkan kebaya olehnya. Dengan kebaya, ia tidak hanya mempercantik perempuan2 bertubuh langsing, tetapi juga siapa pun yang berkebaya. Rinne piawai menyulap pemilik tubuh seperti apa pun tampak lebih cantik dan anggun.”Alhamdulillah, mungkin inilah kelebihan yang diberikan Tuhan kepada saya,”ujar Rinne yang kerap merias artis dan anak2 pejabat.

Rinne tidak menutup salon pertamanya, yang semula hanya 7 kursi, sekarang sudah menjadi 20-25 kursi rias. Rini mengubah tempat kerjanya menjadi 2 ruangan ; satu untuk salon, lainnya sebagai wedding gallery. Dengan begitu, para tamu memperoleh privasi sesuai kebutuhan masing2. Dari penataan manajemen maupun SDM, Rinne membagi 2 tim ; tim salon dan tim wedding dengan jumlah SDM mencapai 25 orang. Setiap karyawan sering diikutsertakan ke berbagai seminar dan workshop kecantikan secara bergiliran dengan tujuan, ketrampilan dan wawasan karyawan bertambah. Ini penting, karena investasi tidak hanya diukur dari perputaran uang dan keuntungan, tetapi juga SDM yang andal. Persaingan pasar wedding cukup ketat. Insya Allah, kalau kita bekerja maksimal dan mempunyai ciri khas, pasti klien akan memberi kepercayaan dan puas dengan apa yang kita lakukan, ujarnya.

Tak heran, Rinne mendapat kepercayaan dari klien2 dari negara2 tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Banyak klien berdatangan dari kedua negara tersebut, meminta Rinne merancang busana pengantin sesuai keinginan. Hal ini mendorong Rinne untuk lebih kreatif dan inovatif berkarya. Banyak gaun pengantin yang diminta sesuai ciri khas negaranya, seperti kebaya bernuansa Melayu atau gaun2 yang diberi sentuhan ballgown di bawahnya. Semua sesuai keinginan dan pesanan mereka. Permintaan merancang dari luar berdatangan setelah Rinne membuka situs di internet. Didukung komunikasi internet yang intensif, para klien tinggal datang dan mengambil barang.Siapa bilang hal2 yang sangat tradisi tak bisa go international ?

Traveling, belanja, koleksi majalah : membantu kreasi & inovasi.

Semua penataan manajemen, Rinne lakukan berkat dukungan sang suami, M.Faizil Akbar ( 38 ), pengusaha penyuka mode. Faizil senang saja Rinne mengenakan harajuku style saat wawancara. Yang penting, fashionable. Dari pernikahannya, Rinne dikaruniai Zahra ( 5 ) dan Zifana ( 3 minggu ). Rinne mendidik anak dari dekat, karena anaknya masih kecil2. Kedekatan dan perhatian.” Sekarang, saya jarang ke salon. Kalau ada janjian, baru datang. Semua itu saya lakukan agar bisa lebih dekat dengan anak.”

Berbeda dengan perias lain, Rinne tergolong moderat dalam hal tradisi yang harus dijalani calon pengantin. Rinne hanya mengajak pengantinnya berdoa agar diberi kelancaran bila saatnya tiba. Pangling tidaknya pengantin bergantung pada ketulusan hati calon pengantin dan kemahiran perias saat merias pengantin. Bukan hal tabu atau gaib yang sering diperbincangkan masyarakat. Bahan make up ikut mempengaruhi, tetapi bahan itu tak berarti jika periasnya tidak bonafid.

Berguru, lalu menjadi guru. Rinne buka kelas privat, lho..

Beberapa guru yang dianggap Rinne berpengaruh bagi perjalanan kariernya, antara lain perias dari Bandung, Dodos Ariawati serta Santoso, perias pengantin dari Jakarta. Semua ilmu dan pengalaman dari para guru menjadi dasar, sedang aplikasinya ia sendiri yang mengembangkan, membuat kreasi2 dan berinovasi baru. Untuk desain gaun pengantin, Rinne melakoninya dengan cara autodidak. Rinne hobi wisata dan belanja sehingga meraup banyak ilmu dan pengetahuan untuk mengembangkan desain. Termasuk hobi Rinne mengumpulkan banyak majalah dalam dan luar negeri sebagai sumber acuan berkarya.

Meski cita2 sudah tercapai, Rinne mengaku ingin membuka cabang untuk memenuhi permintaan klien dan memberi kesempatan para hairdresser Bandung untuk mengekspresikan diri bersamanya. Bunda dekat sekali dengan kami. Ia punya job yang jelas untuk setiap karyawannya. Untuk hal2 tertentu saja yang masih dikerjakan Bunda, kata seorang karyawatinya. Keinginan Rinne adalah berbagi ilmu dan pengalaman kepada para calon perias. Salah satunya memberi kelas privat. ( Eriyanti/ PR, 20/6/2010 ).

LaDiva Salon & Wedding Gallery
Jl Karang Tineung No 1 Bandung
Telp 022 – 2031022
HP 0811216560

Written by Vitra AB

08/07/2010 pada 17:14

Ditulis dalam penggiat seni, seniman

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: