Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Paguyuban Pangarang Wanoja Sunda “Patrem”. Ngariung membahas karya.

leave a comment »

Aam Amilia, ketua Patrem sampai Agustus 2010. Komunitas pengarang wanoja Sunda juga merangkul kaum muda agar tetap eksis dan terus berkarya bagi masyarakat dan kemajuan sastra.

Pagi mulai menghangat ketika anggota Paguyuban Pangarang Wanoja Sunda “Patrem” berdatangan di rumah Aam Amilia. Selain sebagai pribumi, Ceu Aam demikian ia akrab disapa, memang menjabat sebagai Ketua Patrem. Rumah yang tadinya sunyi itu kini menjadi riuh. Apalagi setelah Yooke Tjuparmah, Teti Khodijah, Naneng Daningsih, dan Sum Darsono tiba di lokasi. Rasa kangen pun tumpah. Wajar saja, Sum Darsono memang sengaja datang dari Garut untuk menghadiri pertemuan rutin Patrem itu.”Eh .. pan ieu teh sono atuh,” ujarnya sambil saling berpelukan satu sama lain.

Hadir berada di antara para pengarang Sunda memang beda. Rasa kekeluargaannya terasa sangat kental. Coba saja lihat makanan yang dihidangkan, bukan saja disiapkan sahibul bait, tetapi juga dibawa oleh para tamu yang datang.”Beginilah kalau kita berkumpul, biasanya saling membawa makanan sendiri2. Dari hanya seadanya, sampai ngaronyok seperti ini,” ujar Chye Retty Isnendes, anggota Patrem muda yang bergabung ke organisasi ini sebagai angkatan ketiga.

Tusuk konde Diyah Pitaloka = Patrem

Aam menuturkan, Patrem awalnya hanya sebuah kumpulan pertemuan antar pengarang wanoja Sunda. Penggagasnya almarhumah Ningrum Djulaeha. Kemudian dibentuk menjadi sebuah paguyuban oleh Ningrum bersama Tini Kartini, Yooke Tjuparmah, Naneng Daningsih, Ami Raksanagara, Aam Amilia, dll. Secara resmi, Patrem disahkan pada 18 November 1982. “Tapi kalau kumpul2 awal sih tahun 1970-an,”kata Aam.

Nama resmi yang digunakan kumpulan ini adalah Paguyuban Sastrawati Sunda Patrem, lengkap memiliki AD/ART. Salah satu yang ikut membidani kelahirannya antara lain Ny.Popong Otje Djundjunan. Patrem, menurut Chye Retty, adalah sejenis tusuk konde yang sering digunakan perempuan Sunda. Patrem juga merupakan perkakas perang yang digunakan Putri Citra Resmi atau Diyah Pitaloka dalam Palagan Bubat. Patrem menjadi simbol paguyuban sastrawati Sunda yang diharapkan menjadi metamorfosis kekuatan, kehormatan, martabat, dan keindahan yang ditorehkan melalui karya sastra Sunda.

Nama2 yang pernah menjabat Ketua Patrem adalah Ningrum Djulaeha sebagai ketua pertama Patrem dan menjabat beberapa periode. Digantikan kemudian oleh Tini Kartini, Ami Raksanagara, Naneng Daningsih juga beberapa periode, baru kemudian dipegang oleh Aam Amilia. Aam akan menghabiskan masa kerja periode pertamanya sampai Agustus 2010. Perkumpulan ini terus berkembang. Pengarang wanita yang menjadi anggota paguyuban m Darsono ( Garut ), Cicih Kurniasih ( Tasikmalaya ), Cucu Siti Nurjanah ( Cianjur ), Mumun Munayah, almarhumah Sukaesih Sastrini ( Sumedang ), Yatty M.Wihardja, Pipiet Senja ( Jakarta ), Mien Setianingrum, Dadah Abdulrosak, Suci D.Wihardja, Teti Suharti, Tetty S.Nataprawira, Etti R.S ( sekarang Ketua PPSS ), dan nama2 baru kalangan penulis muda yang produktif. Mereka antara lain ; Teti Hodijah, Chye Retti Isnendez, Ruhaliah, Imas Rohilah, Ai Koraliati, Senny Alwasilah, dll.

Seiring munculnya para penulis perempuan non fiksi, Patrem mengubah keanggotaan, tidak lagi terbatas pada para penulis fiksi, tetapi juga non fiksi. Bahkan AD/ ART pun mengalami perubahan. Patrem mulai lebih mengembangkan keanggotaannya tahun 2009.

Arisan karya, berjuang tetap survive.

Kegiatan utama Patrem adalah berkarya dan membahas karya. Ada tradisi menarik yang kerap dilakukan para anggota Patrem. Sebelum pertemuan, petugas pemberi informasi Patrem menganjurkan semua anggota yang hadir membawa karya.”Kami menyebutnya arisan karya. Setiap orang membawa karya masing2, kemudian dipillih karya siapa yang akan dibahas saat itu, begitu seterusnya mirip arisan,” ujar Yooke Tjuparmah.

Selain mendorong anggota untuk terus berkarya, karya yang dibuat pun dievaluasi.”Siapa pun harus membawa karya dan tidak boleh menolak kalau terpilih untuk dibahas. Malah seringnya semua ingin dibahas, makanya ada pengundian,” sambung Yooke. Kegiatan lainnya, pada era ketua Naneng Daningsih, sempat dibentuk koperasi simpan pinjam. Sangat menolong anggota. Namun, karena banyak anggota dari generasi pertama Patrem yang mulai tidak aktif dan lebih banyak pinjamnya daripada menyimpan, koperasi itu tidak berumur panjang.

“Yah, begitulah namanya organisasi hobi. Kalau sedang intens pasti hidup. Kalau lagi kurang berminat, sepi,” tambah Naneng. Kegiatan lain antara lain ; menerbitkan antologi carita pondok ( carpon ) berjudul “Guriang Tujuh”, menghadirkan pembicara sastra, Saini K.M dan Abdullah Mustappa, mengadakan lomba pidato, lomba membaca carpon, lomba membaca sajak, lomba melukis dan mendongeng carita Sunda, serta melakukan kunjungan sosial kepada anggota yang sakit.

Ciri khas kedua yang kental pada Patrem adalah silaturahmi dan kekeluargaannya. Nyaris tak ada jarak antara anggota senior dan baru. Hal itu diakui Yayi, mahasiswa Jurusan Sastra Sunda UPI Bandung angkatan 2008. Menurut dia, setelah ia bergabung dengan Patrem, banyak hal  yang dapat lebih diketahui, terutama wawasan berkarya dan pengalaman berorganisasi.”Kalau di kampus biasanya kan terbatas teori, tetapi kalau bisa kumpul dengan tokoh2 dan praktisi sastra seperti ini, ilmu pengetahuan dan wawasan saya jadi lebih luas.”

Hal sama diakui Chye Retti dan Ruhaliah. Dua anggota dari kalangan akademik ini mengaku tidak ada jarak antara anggota Patrem dari berbagai generasi. Selain kalangan akademik, anggota Patrem berasal dari latar yang berbeda. Ada guru, karyawan, ibu rumah tangga biasa, sampai wartawan. Sekretariat Patrem di Jalan Sersan Sodik no. 4, Bandung.

Prestasi anggota Patrem

Penghargaan sastra yang diperoleh anggota Patrem, antara lain ;

  • “Rancage” diraih Tini Kartini, Etty R.S dan Holisoh.
  • Haidah Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda ( LPPB ), diraih Holisoh M.E, Etti R.S, Aam Amilia
  • Carpon panilih Mangle, diraih Ai Koraliati, Imas Rohilah, Holisoh M.E, Aam Amilia, Riswanti dan Chye Retti Isnendes.
  • Sajak plih Mangle, diraih Etti R.S, Chye Retti Isnendes, dll
  • Kolom panilih Mangle, diraih Yooke Tjuparmah, dll
  • Anugerah Budaya Jawa Barat, diraih Aam Amilia, tahun 2009
  • Berbagai buku, ditulis Tini Kartini, Aam Amilia, Holisoh M.E, Ai Koraliati, Dr.Ruhaliah, dll
  • Film bioskop “Sebening Kaca”, diadaptasi dari karya Yati M.Wihardja
  • Film “Sanggeus Halimun Peuray”, diadaptasi dari karya Aam Amilia.

( Eriyanti/ PR, 18/4/2010 ).

Written by Vitra AB

12/05/2010 pada 00:33

Ditulis dalam komunitas

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: