Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Golok Ciwidey, berukir, berkulit & berkilau. Ekspor ke mancanegara menurun ?

with one comment

golok

Golok Ciwidey bisa menembus pasar ekspor. Hubungan dengan negara tetangga ternyata mempengaruhi penjualannya. Atau karena kian banyak pesaing, sehingga omzet turun ?

Tangan Deni Marwan ( 29 ) sibuk membersihkan gagang golok berukir naga di salah satu sudut tenda pameran kreativitas di Lapangan Cingcin, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, belum lama ini. Sambil bercakap, Deni menunjukkan beberapa jenis senjata tradisional yang kerap menjadi pajangan, pada pengunjung. Deni mengatakan, sudah 3 generasi keluarganya menekuni pembuatan benda tsb. Menurut warga Jl. Nangkerok, Kampung Mekarlaksana, RT 1 RW 13, Desa Panyocokan, Kecamatan Ciwidey ini, sejak belasan tahun silam, senjata ini diminati banyak orang asing sehingga sering diekspor ke mancanegara. Terbanyak dari Malaysia.  Namun, sejak hubungan kedua negara sempat memburuk tahun lalu, permintaan berkurang drastis, kata Deni.

Sebelumnya, dalam sebulan, dia bisa mengirim sekitar 500 pedang, golok, kujang, rencong, badik dan patimura ke Malaysia. Sekarang tidak ada. Dulu, dalam 3 bulan kami mendapat pendapatan bersih Rp 50 juta per 3 bulan. Sekarang, sekitar Rp 20 juta. Pemasaran ke negara lain, seperti Amerika Serikat, juga jauh berkurang. Permintaan dari Jawa Barat juga menurun, tutur Deni yang memperkerjakan 12 karyawan. Harga senjata tradisional buatan Deni bervariasi, antara Rp.35.000 sampai Rp 2,5 juta, tergantung ukuran dan bentuknya. Biasanya digunakan untuk hiasan dalam rumah dan perlengkapan latihan beladiri.

Bisnis senjata tradisional tersebut sudah ditekuni keluarga Deni sejak dekade 1940-an. Karena berkembang baik, keluarga2 lain di Kec.Ciwidey dan Pasirjambu mengikutinya.Dibanding produk  sejenis dari luar Kab.Bandung, senjata tradisional buatan perajin Ciwidey punya corak dan ciri khusus. Yaitu, bahan bakunya dari kayu rasamala, kayu hitam dan kayu kemuning. Gagang senjata dibuat semenarik mungkin, mulai dari ukiran berbentuk naga, ikan, macan, gajah hingga tengkorak. Tak jarang, Deni menambah aksen kulit dan bebatuan kecil yang tampak berkilau ketika diterpa cahaya. ( Endah Asih, PR, 10/5/2010 ).

Written by Vitra AB

10/05/2010 pada 23:14

Ditulis dalam senjata tradisional

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ass.sampurasun wilujeung tepang ..kang deni abdi kaleureusan seneng ngoleksi benda 2 PUSAKA sanajang replikana..abdi wegah kujang anu nonggong kuya dupi pangaosna sabaraha..htr nhn

    entis sutisna

    18/09/2010 at 18:23


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: