Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Beksan Wireng dalam Serat Sastramiruda.

leave a comment »

Salah satu tarian wireng yang menginspirasi semangat bela bangsa. Melihat dan merenung. ( foto : webtvlive )

Serat Sastramiruda, karya sastra Jawa berhuruf Jawa, diterjemahkan Kamajaya, berisi wawancara Kanjeng Pangeran Arya Kusumadilaga ( ahli pedalangan wayang purwa ) dengan muridnya, Mas Sastramiruda. Tari laras Dhadap, Lawung, Tameng, dsb, dititikberatkan pada ketrampilan memainkan keris dan andhadap ( menari dan memegang perisai ), diiringi gamelan Slendro. Sri Susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta, memilih orang berperawakan prajurit Prawireng ( perwira ) untuk 17 tarian kenegaraan, yaitu :

  • Panji Tua, ditarikan sepasang penari.
  • Panji Muda, ditarikan 4 penari.
  • Gelas Besar, ditarikan 4 penari.
  • Gelas Kecil, ditarikan 4 penari.
  • Panah Besar, ditarikan 2 penari.
  • Panah Kecil, ditarikan 4 penari.
  • Tameng Pedang, ditarikan 4 penari.
  • Tameng Glewang, ditarikan 4 penari.
  • Tameng-Badung, ditarikan 4 penari.
  • Dhadap Alus, ditarikan 4 penari.
  • Karna Tinandhing, ditarikan 4 penari.
  • Dhadap Kreta, ditarikan 4 penari.
  • Dhadap Kanoman, ditarikan 4 penari.
  • Lawung Besar, ditarikan 4 penari.
  • Lawung Kecil, ditarikan 4 penari.
  • Sodoran, ditarikan 4 penari.

Tameng Towok, ditarikan 2 penari.

Beksan Wireng dalam Weddataya
Dalam Serat Weddataya ( 10 Nopember 1923 ), karya pakempalan Yogyataya di Surakarta, berisi struktur tari ( urutan sekaran ), nama sekaran dan maknanya. Beksan yang disebut, yaitu :

  • Dhadap Kanoman
  • Dhadap Kareta
  • Dhadap Alus
  • Tameng Badhung
  • Tameng Gleleng
  • Tameng Pedhang
  • Tameng Towok ( senjata tameng dan towok )
  • Lawung ( senjata lawung )
  • Lawung Alit ( senjata lawung alit )
  • Jemparing Ageng ( senjata panah dan gendhewa )
  • Jemparing Alit ( senjata panah dan gendhewa )

Beksan Wireng dalam Kridhwayangga.
Sejarah tari wireng banyak menyinggung jaman Kediri. Dalam Serat Centhini dan Serat Kridhwayangga, Panji Inukertapati yang bergelar Prabu Suryamisesa ( Centhini menyebutnya Suryawisesa ), dikenal mahir menari, merdu menyanyi, ahli gamelan dan pandai bercerita. Ketika Panji bertahta ( tahun 1145 ), orang mulai belajar dan mendalami tari dan lagu.

baca selanjutnya ..

Iklan

Written by Vitrisa

09/07/2011 at 16:14

Beksan Wireng dalam Serat Centhini. Ensiklopedi budaya Jawa.

leave a comment »

Tari ( beksan ) Wireng menjadi ajang orang Mangkunegaran berlatih menggunakan senjata perang. Di film laga masa kini, adegan perkelahian diiringi efek suara yang mendebarkan dari teknologi modern. Gendhing melakukan hal itu pada masa lalu untuk memikat penonton. Penasaran ? ( foto : webtvlive )

Serat Centhini disusun atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Mangkunagara III, putra Sinuhun Paku Buwana IV ( 1788 – 1820 ), yang kelak bergelar Sinuhun Paku Buwana V ( 1820 — 1823 ), juga disebut Sunan Sugih. Serat Centini disusun Sabtu Pahing, 26 Sura tahun 1742 ( Paksa Suci Sabda Ji ) atau tahun 1814 M. Kemudian dinamakan Suluk Tambangraras. Centhini dari nama cethi ( pembantu ) dan Niken Tambangraras ( istri Seh Amongraga ). Pangeran Adipati Anom membeli Suluk Jatiswara ( 1711 Jawa = Jati Tunggal Sawara Raja ) pada masa Paku Buwono III.

Dalam Serat Centhini, kehidupan Jayeng Resmi ( Seh Amongraga ) menjadi pusat cerita. Para ahli dilibatkan untuk menulis bab agama, kebatinan, ilmu kasampurnan, kasekten, kanuragan, pengasihan, hubungan seks, perhitungan primbon, iladuni, pakuwon, perhitungan musim, sesaji, adat istiadat, berziarah, petilasan, peninggalan kuno, kesusasteraan, dongeng, babad, keris, ciri kuda, burung, rumah ( arsitektur tradisi ), karawitan, gending, tari, tetumbuhan, pertanian, jampi-jampi, lelucon dan sindiran. Gunung, goa, pesisir dan sejenisnya dibicarakan secara luas, panjang lebar, dalam dan menarik  berdasarkan laporan para bupati pesisir. Adipati Anom ikut menggarap dan memeriksa Serat Centhini, yang saking lengkapnya sampai disebut ensiklopedi kebudayaan Jawa.

Data Beksan Wireng tercantum di Serat Centhini ( pupuh sinom 15-20 ). Sejak jaman Jenggala – Kediri ( abad ke-11 ) ada 6 jenis tari wireng, yaitu :

  1. Panji Sepuh, tari tunggal ciptaan Prabu Suryawisesa ( penguasa kerajaan Jenggala ) yang ditarikan dengan iringan gendhing Boyong Bodronaya.
  2. Panji Anem ( muda ), tari berpasangan ciptaan Suryawisesa, dengan sampur, diiringi gendhing Ladrang Sobrang laras pelog barang.
  3. Dhadhap Kanoman, tari berpasangan ( 2 pasang penari ) ciptaan Suryawisesa, dengan senjata dhadhap dan keris, diiringi gendhing Ladrang Rangsang Tuban.
  4. Jemparing Ageng, tari berpasangan ciptaan Suryawisesa, dengan gendewa dan panah, diiringi Ladrang Lengker.
  5. Lawung Ageng karya Raden Kalang ( saudara raja Suryawisesa ), ditarikan sepasang penari, dengan tombak, diiringi gendhing Ladrang Remeng.
  6. Dhadhap Kreta karya Raden Wirun, ditarikan 2 pasang penari, dengan dhadhap dan keris, diiringi gending Ladrang Segaran laras pelog.

baca selanjutnya ..

Written by Vitrisa

08/07/2011 at 16:05

Beksan Wireng Mangkunegaran : mengenang heroisme Pangeran Sambernyawa dan 18 ksatria setia.

leave a comment »

Tari wireng di Mangkunegaran, banyak diciptakan sesuai kebutuhan kerajaan dan karakter penguasa. Mangkunegara I sudah berperang sejak usia 16 tahun. Bayangkan keahlian tempurnya yang tertuang dalam karya tari yang diciptakan. Musuh menyerang ? Fight !

Tari ternyata tak selalu gemulai. Bisa juga gagah perkasa, terutama jika penarinya pria, dan tarian itu digunakan sekaligus untuk berlatih senjata perang. Siapa pemrakarsanya ? Di Mangkunegaran, tentu Raden Mas Said ( Pangeran Sambernyawa ), sang pendiri kadipaten. Kepahlawanan beliau mempengaruhi perilaku penduduk Mangkunegaran. Semangat juang tinggi beliau ( semboyan “Tiji Tibeh” dan Tri Darma ), tercermin dalam karya tari. Sebagian besar berbentuk wireng, yang diciptakan untuk mengenang perang heroik Raden Mas Said melawan VOC. Perang suksesi tanah Jawa ( 1741-1757 ).

Seni karawitan, pedalangan, batik, tari berasal dari istana sebagai pusat budaya Jawa klasik. Kasunanan Surakarta, Mangkunagaran, Kasultanan Yogyakarta dan Paku Alaman. Di Kasunanan Surakarta banyak tari putri, di Mangkunegaran banyak tari perang ( wireng ), hingga 50 lebih. Mangkunegaran yang berupa kadipaten, tak ( diijinkan ) memiliki tarian Bedhaya yang berjumlah 9 penari. Konsep Devaraja : raja titisan dewa. Raja di Jawa adalah titisan Wisnu. Karya seni terindah milik raja. Kagungan Dalem.

Obyek yang diperbuat, diucapkan, dipikirkan dan ditulis orang sering berubah sehingga perlu diperkuat dengan ilmu arkeologi, filologi etnografi dan sosiologi kesenian. Seni tari terikat ruang dan waktu, sehingga gambar, relief dan deskripsi tertulis baru lengkap jika dijelaskan waktunya. Riset dibantu ilmu antropologi, sosiologi, filsafat, filologi, politik dan estetika untuk mengungkap masalah yang timbul. Pengertian tari Wireng ada di Serat Centhini, Serat Sastramiruda, Serat Weddataya dan Serat Kridhwayangga.

baca selanjutnya ..

Written by Vitrisa

06/07/2011 at 15:44

Tari Serimpi : wanita patriot penentang Belanda. Perundingan gagal, pesisir Jawa pun selamat.

leave a comment »

serimpi_kotamanusia_dewiY

4 penari cantik sekaligus cerdik mengelabui Belanda. Tari Serimpi Sangupati menjadi Serimpi Sangopati, karena Belanda memaksa menyerahkan pesisir utara Jawa dan hutan jati. Tari pun bisa menjadi sarana perjuangan membela kedaulatan. Bukankah itu mengagumkan ? ( foto : dewiY )

Seni tari ada sejak jaman primitif, Hindu sampai Islam. Menari bertujuan menyatukan jiwa dalam gerakan luluh. Indah, sopan dan selaras gendhing pengiring. Untuk upacara adat dan sarana persembahan. Jaya pada masa kerajaan Kediri, Singosari dan Majapahit ( pemerintahan Hayam Wuruk ). Pusatnya di Keraton Surakarta dan Puro Mangkunegaran. Meluas ke Jawa Tengah hingga pulau Jawa. Ahlinya, keluarga Sri Susuhunan dan kerabat keraton. Macam tari gaya Surakarta :  Serimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Khusus di Mangkunegaran ada tari Langendriyan dari kisah Damarwulan.

Tari Serimpi, tarian keraton masa silam yang lembut, agung dan menawan. Tari Serimpi ada sejak Prabu Amiluhur masuk kraton. Serimpi Sangopati karya Sri Susuhunan Pakubuwono IX ( 1861-1893 ). Sangopati berasal dari kata “sang apati”, sebutan bagi calon pengganti raja. Beliau berkenan mengubah Sangupati menjadi Sangopati ( bekal mati ), karena kolonial Belanda memaksa Pakubuwono menyerahkan tanah pesisir Jawa pada Belanda. Pada perundingan tersebut, Pakubuwono menyuguhi tari Serimpi Sangopati. Pistol yang dipakai menari sesungguhnya diisi peluru tajam, yang dapat digunakan untuk mengorbankan nyawa. Sampir putih bermakna suci nan tulus. Pakubuwono IX terkenal sangat berani menentang pendudukan Belanda.

Pakubuwono VI ditembak mati Belanda, putra mahkota membalas dengan bekal mati.

Kematian sang ayah ( Pakubuwono VI ), yang membuat Pakubuwono IX demikian. Pakubuwono VI ( pahlawan nasional Indonesia ) ditembak mati Belanda saat dibuang keluar Jawa. Pakubuwono IX masih berumur 3 bulan dalam kandungan ibunda prameswari GKR Ageng, sehingga dua paman Pakubuwono IX menjadi Pakubuwono VII dan Pakubuwono VIII. Pakubuwono IX baru meneruskan tahta setelah berusia 31 tahun. Setelah Pakubuwono IX wafat tahun 1893 di usia 64 tahun, Pakubuwono X mengganti nama Serimpi Sangupati yang kerap digelar di lingkungan keraton ini menjadi Serimpi Sangopati, yang adalah siasat mengalahkan musuh ( Belanda ). Agar perundingan ( sekitar tahun 1870-an ) gagal, sehingga pihak keraton tak perlu melepas pesisir utara dan hutan jati. Semua perbuatan manusia hendaknya untuk memelihara keselamatan dan kesejahteraan hidup. Hawa nafsu harus dikendalikan.

Serimpi sinonimnya empat. Empat putri ( air, api, angin dan tanah ), melambangkan 4 penjuru angin dan terjadinya manusia. Batak, Gulu, Dhada dan Buncit, nama perannya. Komposisi segi 4 melambangkan tiang pendopo. Kecuali Serimpi Renggowati yang ditarikan 5 orang. Menurut Dr. Priyono Serimpi, juga bisa dikaitkan ke akar kata “impi” ( mimpi ). Tarian gemulai sepanjang ¾ hingga 1 jam seperti membawa orang ke alam mimpi. Gamelan Jawa merdu mengiringi. Di tengah tarian, 4 penari memberikan gelek minuman keras pada pihak Belanda. Belanda pun mabuk sampai perundingan gagal dan beberapa daerah bisa diselamatkan. Para prajurit wanita ( penari Serimpi ) itu kemudian menjadi sasaran kemarahan Belanda. Siapa menduga, penari bisa sepatriotis ini ? Mengharukan.

Saat ini, tari Serimpi masih sering digelar, namun adegan minum arak hanya dilakukan simbolis, bukan arak sungguhan. Serimpi Anglir Mendhung yang sakral ( 60 menit ). Serimpi Anglirmendhung ( 11 menit ) dan Serimpi Gondokusumo ( 15 menit ) yang inovatif. Konsumsi masa kini. Jadi, sesibuk apa pun anda, masih sempat nonton tari tradisi bangsa sendiri, kan ? Sekaligus memupuk rasa cinta tanah air pada anggota keluarga. Kalau bukan kita sendiri yang melestarikan, siapa lagi ?

Written by Vitrisa

02/07/2011 at 17:52

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with , ,

Tari Merak : pejantan menggoda betina. Indonesia pun go internasional.

leave a comment »

merak_kotamanusia_yulianF

Warna warni kostum penari mengingatkan kita keindahan bulu merak. Mengamati tingkah laku hewan bisa menghasilkan tarian menarik. Alam memang menyediakan ide yang tak pernah kering. Mari mengamati ( dan memelihara alam ). ( foto : YulianF )

Saya terpesona melihat keindahan bulu merak. Satu helai saja sudah luar biasa. Maha Indah, Tuhan yang menciptakan. Melihat bulu itu menempel di ekor  burung merak yang hilir mudik menggoda betina pujaan hati, makin menarik. Melihat orang Sunda menirukannya dalam tarian indah, tambah gregetan. Thanks God, manusia diberi ilham untuk menciptakan tarian ini di Indonesia. Milik Indonesia.

Tari Merak populer di tanah Jawa. Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki versinya masing-masing. Bisa ditarikan solo, bisa juga ditarikan bersama ( beberapa penari ). Tari kreasi baru dari Jawa Barat ini untuk menyambut tamu kehormatan atau pengantin lelaki yang menuju pelaminan. Diciptakan tahun 1950-an oleh Raden Tjetjep Somantri, koreografer tari Sunda. Irawati Durban Arjon, pecinta seni tari dari Bandung, kembali mengkreasikannya tahun 1965. Irawati merevisinya lagi ( tahun 1985 ) dan diajarkan pada Romanita Santoso ( tahun 1993 )

Beberapa wanita menarikannya dengan kostum merak berwarna merah, kuning, hijau, dll. Seperangkat gamelan Sunda mengiringi gerak gemulai para penari : meloncat anggun dan mengepak sayap lincah bak merak jantan menarik perhatian merak betina. Selendang serupa sayap dengan warna senada terikat di pinggang penari yang bermahkota replika kepala burung merak. Sayap penuh payet dibentangkan penari dengan indah. Mahkota siger bergoyang ketika penari menggerakkan kepala. Merak jantan yang terkenal pesolek, memamerkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan aneka warna. Rayuan terbaik dilanjutkan ritual perkawinan. Mempesona.

Berkat Tari Merak, satu dari segudang khasanah tari yang kita miliki, budaya Indonesia diperkenalkan ke seluruh dunia. Go internasional. Berharap, nama Indonesia kian populer ( dan harum ). Syukurlah, jika kisah dan tarian khas ini disukai orang asing. Apalagi kita. Betul ?

Written by Vitrisa

01/07/2011 at 17:00

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with ,

Tari Bedhaya : klasik, halus, simbolis. Mengangkat martabat wanita dan Indonesia.

leave a comment »

bedhaya_kotamanusia_mipa.uns

Tari Bedhaya Ketawang dalam acara Jumenengan ke-5 Pakubuwono XIII di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 7 penari menjadi 9 penari Bedhaya sesuai jumlah Wali Songo. Bedhaya Ketawang ( 130 menit ), sedangkan Bedhaya To-lu ( 12 menit ). Silakan sesuaikan dengan waktu anda untuk mengagumi tarian anggun ini. ( foto : mipa.uns, AgoesR )

Tarian menyertai perkembangan pusat baru. Pada jaman kerajaan, mencapai tingkat estetis tinggi, dengan standar rumit, halus dan simbolis. Pengaruh India terlihat pada posisi tangan, pengaruh Bali terlihat pada gerak mata. Tarian ciptaan para raja Jawa berbentuk teater, seperti Wayang Orang dan Bedhaya Ketawang. Pusaka raja Jawa. Bedhaya Ketawang diciptakan raja Mataram ketiga, Sultan Agung ( 1613-1646 ), berlatar mitos percintaan raja Mataram I ( Panembahan Senopati ) dengan Kangjeng Ratu Kidul ( penguasa laut selatan/ Samudra Indonesia ) ( Soedarsono, 1990 ).

Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk Majapahit. Tari Bedhaya yang semula ditarikan 7 penari kini ditarikan 9 penari,  sesuai jumlah Wali Sanga. Ide Sunan Kalijaga ini sampai Mataram Islam,  sejak perjanjian Giyanti ( 1755 ) antara Pangeran Purbaya, Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. Sunan Pakubuwono I  menamakannya Bedhaya Ketawang ( Bedhaya suci dan sakral ) dengan nama peran : Endhel Pojok, Batak, Gulu, Dhada, Buncit, Endhel Apit Ngajeng, Endhel Apit Wuri, Endhel Weton Ngajeng, Endhel Weton Wuri

Tari Bedhaya yang belum berubah : Bedhaya Ketawang ( 130 menit ), Bedhaya Pangkur ( 60 menit ), Bedhaya Duradasih ( 60 menit ), Bedhaya Mangunkarya ( 60 menit ), Bedhaya Sinom ( 60 menit ), Bedhaya Endhol-endhol ( 60 menit ), Bedhaya Gandrungmanis ( 60 menit ), Bedhaya Kabor ( 60 menit ) dan Bedhaya Tejanata ( 60 menit ). Tari Bedhaya Ketawang untuk menjamu tamu raja dan Nyi Roro Kidul. Tari Bedhaya lainnya bertema pahlawan dan monumental.

Tari, juga sering juga disebut “beksa” ( ambeg, esa ). Tari Bedhaya ( juga Serimpi ) yang relatif lama ini bisa dikreasi untuk konsumsi masa kini, tanpa mengurangi ciri dan kualitasnya, seperti : Bedhaya La-la ( 15 menit ), Bedhaya To-lu ( 12 menit ), Bedhaya Alok ( 15 menit ). Bedhaya dan Serimpi melahirkan tari klasik seperti Beksan Gambyong ( berasal dari tari Glondrong yang ditarikan Nyi Mas Ajeng Gambyong ). Kecantikan Nyi Mas Ajeng Gambyong, keindahan tariannya, kemerduan suaranya membuat bangsawan Kasunanan Surakarta memintanya menari di istana dan mengajari putra putri raja. Keraton kemudian mengubah tari Glondrong menjadi tari Gambyong.

Kecantikan, tarian indah dan suara merdu bisa mengangkat status seorang wanita di tempat terhormat. Kita harap seni tradisi yang dikreasi dengan indah bisa mengangkat martabat Indonesia di mata dunia internasional. Mari sama-sama berusaha dengan keahlian masing-masing ke arah itu. Ayo.

Written by Vitrisa

30/06/2011 at 16:41

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with , ,

Siter dan celempung : kembar melodius, yang tak sama. Namun sehati ..

leave a comment »

Yang ini namanya siter. ( foto : frontmusic )

Ini dia, alat musik tradisional kita berikutnya. Next perfomance. Ladies and gentlemen, here are .. siter and celempung. Alat musik petik dalam gamelan Jawa, seperti kecapi di gamelan Sunda. Perhatikan bodinya. Wow.

Siter dan celempung punya 11 dan 13 pasang senar yang direntang di antara kotak resonator. Satu senar disetel nada pelog, senar lainnya nada slendro. Panjang siter sekitar 30 cm, dimasukkan dalam kotak ketika dimainkan. Panjang celempung sekitar 90 cm, memiliki 4 kaki, disetel satu oktaf di bawah siter. Siter dan celempung dimainkan bersama, dengan cengkok ( pola melodik berdasar balungan ) secepat gambang ( bertempo cepat ).

Kalau yang ini, namanya celempung ( foto : frontmusic )

Nama ‘siter’ berasal dari ‘citer’ (  bahasa Belanda ) atau ‘zither’ ( bahasa Inggris ). Sedangkan, nama ‘celempung’ terkait musikal Sunda, yaitu celempungan. Ibu jari memainkan senar siter, jari lain menahan getaran ketika senar lain dipetik. Ciri gamelan. Tangan kanan di bawah senar, tangan kiri di atas senar. Keduanya menahan getaran. Gamelan siteran ( juga gamelan lain ) terdiri siter dan celempung berbagai ukuran.

Celempung yang perkusi, ritmis, dari Sunda. Dari mana nama kembaran siter diambil.

Celempung adalah perkusi dari bambu ( bentuk bulat ), berperan seperti kendang, mengatur irama. Yang berbentuk segi 6 dan segi 8 dari bahan kayu. Pemukulnya dari bambu, dengan ujungnya dibalut kain agar bunyinya nyaring. Atraksinya disebut celempungan. Dilengkapi alat musik ( waditra ) kecapi, rebab, suling dan goong buyung. Celempung  ditiru dari icikibung, sejenis permainan tradisi ( pukulan telapak tangan dan gerak sikut di permukaan air yang menghasilkan bunyi unik ).

Sedang yang ini, celempung juga, tapi dari bambu. Dari Sunda .. ( foto : wikipedia )

Celempung dimainkan dengan 2 cara ; dipukul (  kedua alur sembilu dipukul bergantian, tergantung ritme dan suara yang diinginkan ) dan diolah ( tangan kiri mengatur besar kecil suara yang keluar dari badan celempung ). Suara tinggi diperoleh dengan membuka lebih lebar. Suara rendah dengan menutup rapat lubang. Suara yang dihasilkan celempung bisa beragam, tergantung keahlian pemain. Sayangnya, alat musik ini sudah jarang dimainkan. Dalam ensambel, peran celempung diganti kendang dan kulanter. Beginilah, jika musik tradisi kurang dilirik. Ia bisa punah, tinggal kenangan.

Mari hidupkan seni tradisi kita !

Written by Vitrisa

20/06/2011 at 18:20

Ditulis dalam musik tradisi

Tagged with , ,