Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Arsip untuk kategori ‘senjata tradisional

The real keris dan keris-kerisan, bagaimana membedakannya. Tertarik mengoleksi ?

leave a comment »

Our precious, our precious .. ( keris ). Senjata tradisional Indonesia. Jejak keberadaan keris, tak saya sangka, bisa menunjukkan kebesaran para leluhur kita. Di mana ada Majapahit, di situ ada keris. Di mana ? Thailand, Filipina, Kamboja, Brunei Darussalam, etc. Makin penasaran saja. Sebesar apa kekuasaan kerajaan Majapahit ( dan Sriwijaya ) pada jaman dahulu ? Bagaimana mereka bisa sebesar itu ? ( akan dibahas nanti di blog ini dan blog saya yang lain, Great People & City ). Tunggu tanggal mainnya. ( foto : wikipedia )

Panjang keris yang lazim antara 33 – 38 cm. Di luar Jawa mencapai 58 cm. Di Filipina Selatan, mencapai 64 cm. Yang terpendek, keris Buda dan keris Nyi Sombro Pajajaran ( panjang 16 – 18 cm ). Bilah lebih pendek dari itu, bukan keris, tetapi jimat berbentuk keris-kerisan. Keris yang baik dibuat dan ditempa dari 2 logam atau lebih ( besi baja dan bahan pamor ). Bilah dari kuningan, seng dan bahan logam lain bukanlah keris, juga yang dicor, digunting ( bukan ditempa ).

Keris adalah budaya Nusantara, dapat dijumpai di wilayah bekas kekuasaan atau dipengaruhi kerajaan Majapahit ( Thailand, Filipina, Kamboja, Brunei Darussalam, dll ). Di Bali, keris disebut kedutan. Di Sulawesi, disebut juga selle atau tappi. Di Filipina, keris disebut sundang. Di daerah lain disebut kerih, karieh atau kres. Keris dalam pengertian spiritual untuk sipat kandel ( sifat berani, kata orang Jawa ).

Mengikuti perkembangan jaman, bilah yang gemuk, pendek dan tebal  berangsur menjadi tipis, langsing,  panjang dan indah. Ricikan yang semula hanya berupa gandik, pejetan dan sogokan, lalu bertambah kembang kacang, lambe gajah, jalen, jalu memet, lis-lisan, ada-ada, janur, greneng, tingil, pundak sategal, dsb.

Pembuatan keris masih dilakukan secara tradisional ( menggunakan kaidah lama ) di daerah Yogyakarta, Surakarta, Madura, Luwu ( Sulawesi Tenggara), Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta), Kelantan (Malaysia) dan Bandar Sri Begawan (Brunai Darussalam). Beberapa empu dan pandai keris itu bahkan masih tetap membaca mantera, doa dan berpuasa selama membuat keris.  Sebagian orang keris dianggap memiliki kekuatan gaib.

Soal kekuatan gaib ini, saya tak ingin ikut campur. Masalah dunia sudah sedemikian kompleks, saya sudah cukup jungkir balik dibuatnya. Tapi untuk mengagumi keindahan keris dan menyebarluaskan pengetahuan tentangnya, saya bisa melakukannya. Hitung-hitung mempopulerkan Indonesia ke mancanegara. Itu kewajiban saya juga anda ( bangsa Indonesia ).

Seperti inilah bentuk keris tiruan. Yang kecil pun berbahaya karena melibatkan para penghuni dunia lain ( jin ). Saya mengandalkan pertolongan Allah saja. ( foto : pusakaleluhur )

Written by Vitra AB

04/08/2011 at 02:33

Ditulis dalam senjata tradisional

Dikaitkatakan dengan ,

Keris have emotions ? Pasikutan, tangguh and contemporary keris masters.

leave a comment »

Keris diselipkan di pinggang belakang orang Jawa. Simbol keberanian dan penguasaan ilmu. Ada ilmu tersendiri untuk mempelajarinya ( pamor keris ). ( foto : wikimu )

Pasikutan ( roman ) is emotion impression that raised the keris form. Personification pinned on the keris that looks “bent”, “not enthusiastic”, “cheerful”, “unbalanced”, and so on. The ability to read pasikutan is an advanced stage to explore the keris  science, which lead someone to keris panangguhan.

Keris-making style is influenced age, residence and masters maker taste. The term tangguh (  keris estimating follow the style of a particular era or place ). Keris penangguhan usually do to inheritance keris. Description of any tangguh could overlap, because libraries have not strong agreement about the masters tangguh category. Science padhuwungan ( before 20th century ) using the oral tradition. The oldest of Javanese keris tangguh is tangguh Buda ( Buda keris ). The oldest of heritage modern keris came from Pajajaran tangguh ( when part of Central Java’s affected Galuh Kingdom ). The youngest of heritage keris is from the Pakubuwana X periode ( ending in 1939 ). In Surakarta ( 1940s ), there is no good keris maker that can survive with declining quality.

Resurrection of keris art in Surakarta was resumed in 1970, by K.R.T Hardjonagoro ( Go Tik Swan ), supported by Sudiono Humardani, through Bawa Rasa Tosan Aji association. Keris science, then, became one course, ISI Surakarta. Now, the keris made by these master makers is called keris Kamardikan ( independence keris ). They are wong Solo ( Surakarta ) : KRT. Supawijaya, Pauzan Pusposukadgo, STSI keris master team ( ISI ) Surakarta, Harjosuwarno ( work in the KRT Hardjonagoro’s studio studio ), Suparman Wignyosukadgo, etc.

In Javanese philosophy ( Hindu ), the unity of lingga and yoni symbolizes fertility, immortality ( sustainability ) and strength. Blade position to ganja is skew, symbolizing  Javanese’s character ( also other ethnic groups in Indonesia ) who remained crouched, respect for God and human being, as tall as any science, rank and position.

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

03/08/2011 at 02:26

Ditulis dalam senjata tradisional

Dikaitkatakan dengan ,

Keris : pesi-ganja melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Subur dan kuat.

leave a comment »

Keris dan pegangannya. Di ujungnya ada pesi dan ganja. Ibarat lingga dan yoni yang melambangkan kesatuan dan harmoni. Sebuah karya penuh filosofi. That’s ours.( foto : pusakakeris )

Pendok ( selongsong silinder pada gandar )  diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ), perak dan emas . Pendok raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali terbuat dari emas, dihiasi sulaman tali dari emas dan bunga yang bertabur intan berlian. Pendok keris Jawa berbentuk :  pendok bunton ( selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya ), pendok blewah (blengah, terbelah memanjang sampai bagian gandar terlihat dan pendok topengan yang belahannya di tengah. Hiasan pendok bisa berukir dan polos (tanpa ukiran).

Wilah ( bilah ) atau wilahan adalah bagian utama dari keris. Bilah bisa berbentuk jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal bilah ada pesi, yang masuk ke pegangan keris, sepanjang  5 – 7 cm, penampang sekitar 5 – 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, di Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Di pangkal keris ( ganja, di semenanjung Melayu disebut aring), ada lubang pesi ( bulat, untuk memasukkan pesi ). Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan pesi-ganja melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Ganja  sepintas berbentuk cecak : bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan, ekornya disebut sebit ron. Ganja lain berbentuk wilut, dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.

Luk,  bagian berkelok dari bilah keris. Bentuk keris ada yang lurus, ada yang berkelok ( luk ). Menghitung luk dari pangkal keris ke ujung keris, dari sisi cembung pada kedua sisi seberang-menyeberang ( kanan-kiri ), yang jumlahnya selalu gasal ( ganjil). Antara 3 sampai 13 luk. Melebihi itu disebut keris kalawija ( tidak lazim ).

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

02/08/2011 at 02:23

Ditulis dalam senjata tradisional

Dikaitkatakan dengan ,

Keris : morfologi, bagian dan bahannya. Bertatahkan emas dan berlian. Tak kalah dengan ponsel fashion.

with one comment

Lihat liukan emas di bilah keris ini ? Rumit dan indah. Pantas menghadap raja dengan keris seindah ini, kan ? ( di pinggang belakang demi keselamatan raja ) ( foto : kaskus )

Keris atau dhuwung terdiri tiga bagian utama :  bilah ( wilah atau daun keris), ganja ( penopang ) dan hulu keris (ukiran, pegangan keris). Hulu keris dapat terpisah atau menyatu dengan bilah. Ganja tidak selalu ada, tapi keris-keris yang baik selalu memilikinya. Keris sebagai senjata dan alat upacara dilindungi sarung keris atau warangka.

Morfologi keris yang harus diperhatikan adalah kelokan (luk), ornamen (ricikan), warna ( pancaran bilah ) dan pola pamor. Kombinasinya menghasilkan sejumlah bentuk standar (dhapur) keris dalam pustaka keris. Waktu mempengaruhi gaya pembuatan, tercermin dari konsep tangguh, terkait periodisasi sejarah, geografis dan empu pembuatnya.

Hulu keris Bali bermotif dewa, pendeta, raksasa, penari, pertapa hutan, dengah ukiran kinatah emas dan bertatahkan batu mirah delima. Hulu keris Sulawesi bermotif burung laut, lambang profesi pelaut yang banyak ditekuni masyarakat Sulawesi ( burung lambang dunia atas keselamatan ). Hulu keris Riau Lingga bermotif kepala burung. Hulu keris Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Bahannya dari gading, tulang, logam, dan kayu. Hulu keris Jawa, terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) weteng dan bungkul.

Warangka, atau sarung keris ( bahasa Banjar : kumpang ), terbuat dari kayu  jati, cendana, timoho, kemuning dan gading. Dua bentuk warangka :  wrangka ladrang  (  terdiri dari angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri dan cangkring ) dan wrangka gayaman (gandon, terdiri dari lata, janggut, gandar, ri dan cangkring ). Wrangka ladrang untuk upacara resmi ( menghadap raja, penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll), diselipkan di di lipatan sabuk (stagen) pinggang belakang ( pertimbangan  keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman untuk keperluan harian dan perang ( karena praktis, cepat, mudah bergerak dan bentuknya sederhana ), diselipkan di depan ( dekat pinggang ) atau pinggang belakang.

baca selanjutnya ..

Written by Vitra AB

01/08/2011 at 02:19

Ditulis dalam senjata tradisional

Dikaitkatakan dengan ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.