Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Tari Serimpi : wanita patriot penentang Belanda. Perundingan gagal, pesisir Jawa pun selamat.

leave a comment »

serimpi_kotamanusia_dewiY

4 penari cantik sekaligus cerdik mengelabui Belanda. Tari Serimpi Sangupati menjadi Serimpi Sangopati, karena Belanda memaksa menyerahkan pesisir utara Jawa dan hutan jati. Tari pun bisa menjadi sarana perjuangan membela kedaulatan. Bukankah itu mengagumkan ? ( foto : dewiY )

Seni tari ada sejak jaman primitif, Hindu sampai Islam. Menari bertujuan menyatukan jiwa dalam gerakan luluh. Indah, sopan dan selaras gendhing pengiring. Untuk upacara adat dan sarana persembahan. Jaya pada masa kerajaan Kediri, Singosari dan Majapahit ( pemerintahan Hayam Wuruk ). Pusatnya di Keraton Surakarta dan Puro Mangkunegaran. Meluas ke Jawa Tengah hingga pulau Jawa. Ahlinya, keluarga Sri Susuhunan dan kerabat keraton. Macam tari gaya Surakarta :  Serimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Khusus di Mangkunegaran ada tari Langendriyan dari kisah Damarwulan.

Tari Serimpi, tarian keraton masa silam yang lembut, agung dan menawan. Tari Serimpi ada sejak Prabu Amiluhur masuk kraton. Serimpi Sangopati karya Sri Susuhunan Pakubuwono IX ( 1861-1893 ). Sangopati berasal dari kata “sang apati”, sebutan bagi calon pengganti raja. Beliau berkenan mengubah Sangupati menjadi Sangopati ( bekal mati ), karena kolonial Belanda memaksa Pakubuwono menyerahkan tanah pesisir Jawa pada Belanda. Pada perundingan tersebut, Pakubuwono menyuguhi tari Serimpi Sangopati. Pistol yang dipakai menari sesungguhnya diisi peluru tajam, yang dapat digunakan untuk mengorbankan nyawa. Sampir putih bermakna suci nan tulus. Pakubuwono IX terkenal sangat berani menentang pendudukan Belanda.

Pakubuwono VI ditembak mati Belanda, putra mahkota membalas dengan bekal mati.

Kematian sang ayah ( Pakubuwono VI ), yang membuat Pakubuwono IX demikian. Pakubuwono VI ( pahlawan nasional Indonesia ) ditembak mati Belanda saat dibuang keluar Jawa. Pakubuwono IX masih berumur 3 bulan dalam kandungan ibunda prameswari GKR Ageng, sehingga dua paman Pakubuwono IX menjadi Pakubuwono VII dan Pakubuwono VIII. Pakubuwono IX baru meneruskan tahta setelah berusia 31 tahun. Setelah Pakubuwono IX wafat tahun 1893 di usia 64 tahun, Pakubuwono X mengganti nama Serimpi Sangupati yang kerap digelar di lingkungan keraton ini menjadi Serimpi Sangopati, yang adalah siasat mengalahkan musuh ( Belanda ). Agar perundingan ( sekitar tahun 1870-an ) gagal, sehingga pihak keraton tak perlu melepas pesisir utara dan hutan jati. Semua perbuatan manusia hendaknya untuk memelihara keselamatan dan kesejahteraan hidup. Hawa nafsu harus dikendalikan.

Serimpi sinonimnya empat. Empat putri ( air, api, angin dan tanah ), melambangkan 4 penjuru angin dan terjadinya manusia. Batak, Gulu, Dhada dan Buncit, nama perannya. Komposisi segi 4 melambangkan tiang pendopo. Kecuali Serimpi Renggowati yang ditarikan 5 orang. Menurut Dr. Priyono Serimpi, juga bisa dikaitkan ke akar kata “impi” ( mimpi ). Tarian gemulai sepanjang ¾ hingga 1 jam seperti membawa orang ke alam mimpi. Gamelan Jawa merdu mengiringi. Di tengah tarian, 4 penari memberikan gelek minuman keras pada pihak Belanda. Belanda pun mabuk sampai perundingan gagal dan beberapa daerah bisa diselamatkan. Para prajurit wanita ( penari Serimpi ) itu kemudian menjadi sasaran kemarahan Belanda. Siapa menduga, penari bisa sepatriotis ini ? Mengharukan.

Saat ini, tari Serimpi masih sering digelar, namun adegan minum arak hanya dilakukan simbolis, bukan arak sungguhan. Serimpi Anglir Mendhung yang sakral ( 60 menit ). Serimpi Anglirmendhung ( 11 menit ) dan Serimpi Gondokusumo ( 15 menit ) yang inovatif. Konsumsi masa kini. Jadi, sesibuk apa pun anda, masih sempat nonton tari tradisi bangsa sendiri, kan ? Sekaligus memupuk rasa cinta tanah air pada anggota keluarga. Kalau bukan kita sendiri yang melestarikan, siapa lagi ?

About these ads

Written by Vitra AB

02/07/2011 at 17:52

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with , ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: