Kota Manusia

seni tradisi dihidupkan, baca buku digiatkan

Batik warisan budaya dunia, 3 bulan melukisnya. But, it’s worth.

with 2 comments

Motif batik Mega Mendung khas Cirebon. Seni batik Jawa Barat memunculkan industri kreatif dari wilayah pesisir seperti batik Cirebon, Indramayu, Garut dan Tasikmalaya. Batik kontemporer terbagi 2 : batik kontemporer Bandung dan batik Jabar meliputi ; kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Kuningan, Majalengka, Subang, Purwakarta dan Bekasi. Nah, mana favorit anda ? ( foto : herdyah )

Anda kenal batik ? Seni lukis di atas kain ( mori ) dengan malam ( lilin ) dan pewarna alami, menghasilkan corak motif indah  memukau. Bayangkan, 2-3 bulan untuk membuat satu helai kain batik. Anda punya waktu sebanyak itu untuk membuatnya sepotong baju untuk dikenakan ? Well, biarlah orang lain yang melakukan, anda  mendengarkan ceritanya saja ( dan mungkin membelinya dari para wanita sabar ini ).

Kisahnya dari Indonesia. Negeri kepulauan terbesar di dunia, di mana Bali adalah salah satu provinsinya. O, I see.

Dahulu, perempuan Jawa mencari nafkah dengan ketrampilan membatik. Setelah teknik batik cap ditemukan ( tahun 1920-an ), baru para lelaki ikut membatik. Terutama di daerah pesisir dengan corak mega yang bergaris maskulin. Cap dibuat di Bangil, obat batik luar negeri ( Jerman, Inggris ) dibawa pedagang China. Pengusaha batik membelinya di pasar Porong Sidoarjo. Kerajinan batik Indonesia sudah dikenal sejak kerajaan Majapahit, Solo, Yogyakarta dan masa penyebaran Islam. Pusat batik Jawa di daerah santri, sebagai penguat perjuangan ( tokoh ) pedagang muslim melawan perekonomian Belanda dan China.

Semula, kain batik dibuat dalam keraton untuk busana raja, keluarga dan para abdi dalemnya. Lambat laun, masyarakat di luar keraton ikut menjadi pengrajin batik, karena banyak pengikut raja yang tinggal di luar keraton, membatik di rumah masing-masing. Batik menjadi pakaian rakyat dan digemari semua kalangan.

Batik berasal dari kata “amba” ( Jawa = menulis ) dan “nitik”. Batik adalah teknik pembuatan corak dengan malam ( lilin ) yang tak tembus pewarna. Kain batik adalah kain yang bercorak hias ( dengan proses malam ) dengan canting atau cap ) sebagai media penggambarnya. Kain dari serat alami ( katun, sutra, wol  ).

Kain yang tidak menggunakan teknik perintang warna hanya bisa disebut kain bermotif batik. Bukan kain batik. Kain ini banyak dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak ( print ). Kita berharap, kain batik yang banyak digunakan orang sehingga lebih banyak warga, para pengrajin, wong cilik, yang terhidupi.

Kain batik untuk membatik ( mori ) ditenun sendiri ( tenunan gendong ). Pewarna alami untuk membatik dari pohon mengkudu, tinggi, soga dan nila. Bahan soda dari soda abu. Garam dari tanah lumpur. Kain putih impor baru dikenal ( didatangkan ) pada akhir abad 19.

Setelah interaksi dengan bangsa asing, corak dan warna batik menjadi beragam. Corak phoenix dan warna merah cerah terpengaruh budaya Tionghoa. Corak bunga tulip, kereta kuda, gedung dan warna biru, terpengaruh budaya Eropa. Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya yang penuh perlambang. Batik paling tersohor di dunia adalah batik Indonesia ( Jawa ).

Karya batik ditemukan di Jawa, Malaysia, Thailand, Iran, India, Mesir, Jepang, Srilanka, China, Turki dan Afrika dengan kekhasan masing-masing. Beruntung, batik Indonesia sudah diakui UNESCO ( 2 Oktober 2009, di Abu Dhabi ) sebagai mahakarya warisan budaya dunia intagible ( tak benda ) dari Indonesia. Sah milik Indonesia.

Pengalaman manusia terkristal dalam kreativitas individual dan kolektif. Batik, seni tekstil tradisi. Ekspresi masyarakat pendukungnya. Kekayaan budaya Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Madura, Lasem, Sukaharjo, Tuban, Sidoarjo, Bali, Palembang, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Gresik, Ponorogo, Banyumas, Pacitan, Trenggalek, Demak-Kudus, Rembang-Juwana-Pati, Kalimantan, Papua dan Sumatera.

Keindahan yang ternoktahkan dalam keragaman motif, hiasan, pewarnaan dan teknik khas. Fungsional untuk busana harian, upacara adat, tradisi kepercayaan, agama dan status sosial. Bermakna. Melebur nilai moral, adat, tabu, agama dan sebagainya.

Batik masih dikenakan hari ini dalam acara-acara resmi, hajatan, kenegaraan, atau pemerintahan. Warga Indonesia membuat dfan menggunting pola batik menurut selera masing-masing. Turis asing  dan para ekspatriat juga menggemari batik dan sering membawanya pulang sebagai oleh-oleh.

Jika batik sudah menjadi warisan budaya dunia, bersediakah anda ikut melestarikan dengan mengenakannya di berbagai acara ? Terasa sejuk dan elegan. Coba saja.

Written by Vitra AB

19/10/2011 at 13:19

Ditulis dalam seni & desain

Tagged with , ,

Sasando : bambu & daun lontar mengalun indah di tangan Jeremias Pah.

leave a comment »

Jeremias Pah in action. Tentu dengan topi khas NTT dan Sasando. Terdengar seperti harpa. Saya pikir daun lontar untuk menulis manuskrip kuno dan membungkus nasi kuning. Ternyata untuk main musik pun bisa. Hebat.

Ti’i Langga, topi mirip perahu menghiasi kepala pemetik Sasando yang berbusana merah khas NTT. Lagu I’m Yours – Jason Miraz dan lagu daerah Bolelebo berkumandang indah di tangan mereka. Keluarga Pah : Jeremias, Jack dan Djitron mewarisi bakat bermain alat musik berhias daun lontar tersebut.

Sasando ( bahasa Rote = ‘sasandu’ ) artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Instrumen petik ini muncul dan berkembang di Pulau Rote sejak tahun 1700-an. Tabung panjang dari bambu menjadi bagian utama Sasando. Di bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah terentang dawai dari satu tumpuan ke tumpuan lainnya dengan nada berbeda tiap petikan senar. Anyaman daun lontar seperti kipas menjadi wadah resonansinya. Jeremias dan Djitron lalu mengembangkan Sasando elektrik.

Jeremias Pah, 71 tahun, mengabdikan diri untuk melestarikan dan mempopulerkan Sasando. Kharismatik. Makin tua makin jadi. Bungsu dari dua bersaudara itu lahir 20 Oktober 1939. Ougust Pah, ayahnya, adalah pemain dan pembuat Sasando di Pulau Rote yang sering diundang memeriahkan acara hingga ke istana ( kerajaan ).

Ougust bekerja keras menghidupi keluarga dengan bertani. Di sela kesibukannya, ia mengembangkan Sasando yang semula 24 tali menjadi 32 tali. Namun, di Pulau Rote, karena transportasi sangat kurang, Sasando sulit berkembang. Juga, sulit mencari pekerjaan di sana.

Jeremias pun pindah ke Kupang. Ia bertani, membuat mebel, melaut, menjaga warung dan bermain Sasando di waktu istirahatnya. Tahun 1973, ia menikah dengan Sofia, pelanggan warung yang dijaganya. Tujuh tahun kemudian, lahirlah Hendra Pah, Teni Pah, Jack Pah dan Djitron Pah. Saat itu, Sasando belum laku, sehingga Jeremias membuat dan menjual berbagai kerajinan dari papan sisa mebel. Baru setelah tokoh masyarakat meminta Jeremias mengajari anak-anak bermain Sasando, jalan rejeki mulai terbuka. Keluarga Pah diundang ke Taman Mini Indonesia Indah ( TMII ), ikut lomba dan diundang main ke mana-mana.

Sepeninggal Sofia dan Christina Daung, Jeremias menikahi Dorce yang sangat pandai membuat tenun kain daerah. Keduanya pernah ke Jepang bersama mengikuti sebuah pameran tahun 2006. Setahun kemudian, datang utusan dari Departemen Seni dan Budaya mengundang Jeremias beserta istri ke Jakarta untuk menerima uang apresiasi, gaji dan peniti emas. Tahun 2008, Jeremias mendapat piagam penghargaan Maestro dari presiden.

Perjuangan panjang membuahkan hasil membanggakan. Anda terinspirasi mengikuti jejaknya dengan alat musik khas daerah anda ?

Written by Vitra AB

12/10/2011 at 15:22

Ditulis dalam musik tradisi

Tagged with , ,

Piring : ritual syukur menjelma akrobatik yang memukau. Berani menginjak piring pecah ?

leave a comment »

Membawa 2 piring saja, kita sudah berdebar, takut jatuh dan pecah. Apalagi, sambil berlari, melompat, berguling dan menginjak pecahan kaca. Meski dibayar mahal, saya masih pikir-pikir dulu. Tapi para penari ini, demi melestarikan seni tradisi daerahnya, rela melakukannya dengan riang. Jika anda makan di restoran Padang, melihat mereka membawa piring bertingkat penuh makanan tanpa tercecer sedikit pun, anda jangan heran. Urusan piring dan hidangan, mereka memang jagonya. ( foto : ervan nanggalo )

Berasal dari Solok, Sumatera Barat. Berusia ratusan tahun. Tari tradisional khas Minangkabau ini awalnya berupa ritual syukur warga atas hasil panen yang melimpah. Beberapa gadis cantik berbusana elok membawa sesaji makanan dalam piring dengan langkah dinamis. Piring dimainkan dengan cekatan seraya bergerak lembut teratur.

Setelah kedatangan Islam, tari Piring ditampilkan pada pesta adat, pernikahan, dll. Pemerintah provinsi Sumatera Barat kemudian menjadikan tari Piring, salah satu aset penarik wisatawan. Tari Piring pernah dipentaskan di Jakarta, Medan, Pekanbaru, Malaysia, Singapura, Serbia, dll, dalam festival kebudayaan Indonesia dan promosi budaya nusantara ke mancanegara.

Tari Piring yang dibawakan Suzana Orlic, mantan peserta program Dharmasiswa, memukau publik Serbia. Mereka berdecak kagum ketika Suzana menari di atas pecahan piring. Di atas pecahan kaca, para penari Piring biasa melompat dan berguling tanpa piring terlepas dari genggaman. Hebatnya, mereka tidak terluka dan piring tidak jatuh. Istimewa, kan ?

Tupai bagaluik ( tupai bergelut ), bagalombang ( bergelombang ) dan aka malilik adalah beberapa variasi gerakan dalam tari Piring. Para musisi memandu para penari dengan musik tradisional Minangkabau, seperti  talempong, bansi. Irama musik, awalnya, terdengar lembut dan teratur, lalu berangsur lebih cepat. Kombinasi musik cepat dan gerak lincah penari membuat tari istimewa ini menakjubkan.

Grup kesenian Tari Piring ada di tiap kecamatan dan kabupaten di Sumatera Barat. Mereka siap tampil menghibur masyarakat  pada acara-acara besar di sana. Apakah anda siap terpesona ?

Written by Vitra AB

07/09/2011 at 17:52

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with

Barong : keliling desa meramaikan pariwisata Bali. Apa kisahnya ?

with 3 comments

Barong Brutuk, salah satu jenis tari Barong di Bali. Barong perlambang kebajikan, dibawakan penari dengan kostum binatang berkaki empat. Rangda perlambang kejahatan dibawakan penari dengan kostum menyeramkan dan dua taring di mulutnya. Pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan memang tak pernah usai hingga akhir jaman. Namun, jangan lewatkan pertunjukan yang satu ini. ( foto : budidwihartanto )

Tari Barong adalah jenis tari terpopuler untuk pariwisata di Bali. Barong Keket memadukan singa, macan, sapi dan boma. Badan Barong dihiasi ukiran kulit, ditempeli cermin berkilau, bulu dari serat sejenis daun pandan, ijuk atau bulu gagak. Pertarungan kebajikan ( dharma ) dan keburukan ( adharma ), alias rwa bhineda, dilukiskan dalam tari Barong Keket.

Bangkal adalah babi besar yang tua. Barong Celeng menyerupai bangkal. Barong Bangkung menyerupai bangkung. Dua orang menarikannya keliling desa saat wabah penyakit menyerang atau hari keramat diiringi tetamburan. Barong Asu menyerupai anjing ( asu ) di Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan keliling desa pada hari tertentu, diiringi baleganjur.

Barok Brutuk ditarikan remaja yang telah disucikan, menggambarkan makhluk suci pengiring Ida Ratu Pancering Jagad yang beristana di Pura Pancering Jagad, Trunyan. Barong Kadingkling atau Barong Blasblasan ditarikan keliling desa Kintamani, di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung. Ia mengenakan daun pisang kering ( keraras ) dan topeng batok kelapa. Setiap orang yang membawa cambuk, memecut, seraya berlari keliling pura diiringi gamelan baleganjur. Para penari cilik bertopeng wayang orang mengisahkan adegan perang Ramayana di hari raya Galungan dan Kuningan. Diiringi gamelan batel dan babonangan ( gamelan batel dilengkapi reyong ).

Barong Gajah menyerupai gajah yang ditarikan 2 orang. Langka dan keramat. Dipentaskan keliling desa ( ngelawang ) di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli, diiringi gamelan batel ( tetamburan ). Barong Macan menyerupai macan, dipentaskan keliling desa diiringi gamelan batel dan dibalut kisah semacam Arja.

Barong Landung, semula, untuk mengelabui makhluk halus penebar penyakit dan bahaya ke perkampungan Bali. Makhluk-makhluk itu dianggap hulubalang Ratu Gede Mecaling yang menyeberangi laut dari Nusa Penida. Pendeta sakti menyarankan penduduk membuat patung tinggi, besar, hitam dan bertaring mirip majikan mereka ( Jero Gede Mecaling ) dan mengaraknya keliling kampung. Para makhluk itu takut dan menyingkir. Penderitaan penduduk sirna. Patung Jero Luh dibuat untuk menemani Jero Gede. Kedua Barong Landung itu lalu dihibur, diajak jalan-jalan, menari dan bersenang-senang. Suasana pun menjadi ramai.

Anda pernah melihat keramaian ini ?

Written by Vitra AB

03/09/2011 at 17:50

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with

Jaipongan : tari pergaulan yang merakyat sekaligus melanglangbuana. Tamu negara pun terhibur.

leave a comment »

Tari Jaipongan menjadi identitas kesenian Jawa Barat. Tempo hari di Trans TV, ada kontestan IMB yang konsisten membawakan tari Jaipongan. Rumingkan. Belia, cantik juga powerfull. Saya baru tahu, Pencak Silat ikut mempengaruhi tari Jaipongan. Pantas saja. ( foto : kompas )

Tari Jaipongan, siapa tidak kenal ?

Tarian rakyat ini juga digelar untuk menyambut tamu negara  yang datang ke Jawa Barat. Identitas kesenian Jawa Barat yang dibawa dalam misi kesenian ke mancanegara. Tari ini mempengaruhi seni pertunjukan wayang, degung, genjring ( terbangan ), kacapi jaipong dan bahkan musik dangdut. Pong-Dut.

Bagaimana Jaipongan diciptakan ?

Tari Jaipongan, hasil modifikasi tari tradisional khas Sunda, Ketuk Tilu, yang populer sekitar tahun 1916. Ketuk Tilu sudah ada sejak tahun 1809 ketika Groote Postweg dibuat. Waditra yang digunakan waktu itu adalah rebab, kendang, 2 kulanter, 3 ketuk dan gong. Gugum Gumbira, seniman asal Bandung, lalu mengkreasikannya kembali menjadi tari Jaipong. Ia sangat mengenal pola gerak tari tradisi yang berkembang di Kliningan atau Bajidoran ( Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, Subang ).

Gerak bukaan, pencugan, nibakeun, mincid dari beberapa kesenian di sini menjadi inspirasi kesenian Jaipongan. Nama populernya. Ronggeng dan pamogoran ( penonton yang ikut menari dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu, Doger dan Tayub ) mempengaruhi Jaipong sebagai tari pergaulan. Beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tari Topeng Banjet. Gerak dasar tari Jaipongan juga diambil dari Pencak Silat.

Karya Jaipongan pertamanya adalah tari “Daun Pulus Keser Bojong” ( tari putri ) dan “Rendeng Bojong” ( tari putra putri, berpasangan ). Muncul nama Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali dan Pepen Dedi Kurniadi sebagai penari Jaipongan yang andal. Setelah dipentaskan di TVRI tahun 1980, tari Jaipongan pun laris manis diundang ke hajatan, televisi dan perayaan. Penggiat seni tari menjadi lebih aktif menggali tarian rakyat yang sebelumnya kurang diperhatikan. Kursus tari Jaipongan dibuka. Sanggar atau grup tari dibentuk di Jawa Barat untuk melayani permintaan masyarakat.

Tari Jaipongan bergaya Kaleran berciri ceria, humoris, semangat, spontan, sederhana, alami dan apa adanya. Seni Jaipongan di Bandung diberi pola ( Ibing Pola ). Di Subang dan Karawang tidak berpola ( Ibing Saka ). Jaipongan gaya Kaleran ini disajikan dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Tatalu
  2. Kembang Gadung
  3. Buah Kawung Gopar
  4. Tari Pembukaan ( Ibing Pola ) yang dibawakan penari tunggal atau sinden Tatandakan ( menarikan lagu sinden ).
  5. Jeblokan dan Jabanan, di mana para penonton ( bajidor ) sawer uang ( jabanan ) dengan salam tempel.

Tahun 1980-1990an, Gugum Gumbira menciptakan tari Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan dan Kawung Anten. Muncul penari Jaipongan andal : Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata dan Asep.

Tari Jaipongan diiringi musik Degung yang menghentak dengan suara kendang yang dominan. Penari bisa seorang, berpasangan atau berkelompok. Mereka menari di acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.

Jadi, anda tahu tari Jaipongan, pencipta Jaipongan dan penari Jaipongan sekarang.

Written by Vitra AB

31/08/2011 at 17:48

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with

Topeng : dalang titisan dewa, ketupat pembayar nazar. She’s alive ?

leave a comment »

Maestro Topeng, Kartini Kisam mengenakan topeng Kedok Tiga Betawi, dan menari "Topeng Kedok Tiga Betawi" di Jakarta, tahun 2008. Pertunjukan "The Mask by the Maestro" ini untuk menghormati seniman topeng tradisi Nusantara yang semakin langka digelar. Terima kasih pada para empu tari dan penyelenggara. Bertahanlah. Jangan tinggalkan generasi penerus tanpa jati diri. ( foto : antara ).

Apa yang anda ingat tentang Jakarta ? Macet ? Penuh sesak ? Banjir tiap diguyur hujan ? Tapi orang terus berdatangan untuk mengadu nasib, transit atau beravontur menikmati obyek wisata. Di usianya ke 484 tahun, Jakarta berpenduduk lebih 9 juta jiwa. Penasaran kenapa demikian ?

Sunda Kelapa, dahulu namanya. Ketika Fatahillah merebutnya dari penjajah ( Portugis ) tahun 1527, dinamai Jayakarta ( = kemenangan yang selesai ). JP Coen, Gubernur Jenderal Belanda ( tahun 1600-an ) menghendaki Batavia menjadi pusat perdagangan besar. Kawasan Jalan Sudirman, masa Soekarno, dibangun untuk mengukuhkan identitas Jakarta sebagai ibukota negara.

Budaya setempat bertemu dengan budaya pendatang ( China, India, Arab, Turki, Persia, Portugis, Inggris, Belanda, dll ) melahirkan keragaman corak seni dan budaya. Perkawinan di antara mereka mempengaruhi cara berkesenian masyarakat Betawi. Di Situ Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, anda bisa melihatnya.

Ritual Topeng cukup penting dalam perkawinan dan khitanan warga Betawi.”Biar tekor asal kesohor,” kata mereka yang menjaga status sosialnya dengan menggelar pertunjukkan topeng. Pesta meriah, nazar terbayar.

Ketupat lepas adalah ritual pengundang ( empunya hajat ) saat melunasi nazarnya. Ketupat diletakkan di atas beras kuning bercampur uang logam. Kembang Topeng dan orang yang dinazari memegang ketupat itu diiringi alunan doa ( seseorang di dalam ). Setelah doa selesai dibacakan, ketupat dihentakkan dan uang diperebutkan anak-anak yang telah siap di depan.

Kembang Topeng dianggap mempunyai kekuatan supranatural, seperti Sukma Jaya yang menjadi ronggeng Topeng bernama Gandawirang. Sukma Jaya dan Jaka Pertaka merujuk Dewa Umar Maya yang sakti, ( dianggap ) bisa menyembuhkan Ratna Cuwiri. Kaki Jugil dalam cerita Jaka Pertaka ( dianggap ) menghidupkan patung kayu perempuan. Dewa ini ( dianggap ) menyamar sebagai dalang grup Topeng.

Tahun 1975, ada 60 grup Topeng di wilayah Jabotabek. Grup Topeng di Kecamatan Cibinong dan Cimanggis di Bogor, menggunakan bahasa Sunda. Grup Topeng di Kecamatan Curug, Cikupa, Balaraja ( pusat Topeng ), Tigaraksa, Kronjo, Kresek, Rejeg di Tangerang ( wilayah Lenong ) menggunakan bahasa Sunda. Grup Topeng di Kecamatan Bekasa, Tambun ( pusat Topeng ), Cikarang, Cibitung, Setu, Lemah Abang, Sukatani, Pebayuran, Babelan, Pondok Gede di Bekasi menggunakan bahasa Melayu Betawi. Grup Topeng di Kecamatan Koja, Jatinegara, Kramat Jali, Pasar Rebo ( pusat Topeng ) di Jakarta, menggunakan bahasa Melayu Betawi.

Topeng bagi orang Betawi, sekarang, adalah pertunjukan. Bentuknya teater, mengandung aspek tari, nyanyi, narasi dengan dialog maupun monolog. Pertunjukkan Topeng ini mungkin mengingatkan anda pada Jakarta.

Written by Vitra AB

27/08/2011 at 07:00

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with ,

Gong dan 12 tari dari suku Dayak untuk anda. Bertani, berkeluarga dan .. perang !

leave a comment »

Penari Kancet Papatai berbusana suku Dayak Kenyah, lengkap dengan mandau, perisai dan baju perang. Setiap daerah punya tari perangnya sendiri. Apa sejak dulu sudah ada perebutan wilayah ? Lahan masih luas, manusia masih sedikit. Hmm .. ( foto : pariwisatajbr )

Seperti namanya, tari Gong ditarikan dengan iringan musik gong. Menggambarkan kelembutan gadis yang meliuk seperti padi. Gerak tubuh dan tangan lambat. Sang gadis berbusana adat Dayak Kenyah yang didominasi bulu burung.

Tari Gantar.

Kehidupan sehari-hari bisa mengilhami sebuah tarian. Kegiatan bercocok tanam sebagian besar masyarakat agraris Indonesia tergambar dalam tari Gantar. Tongkat sebagai kayu penumbuk. Bambu dan bebijian di dalamnya menggambarkan wadah dan padi. Tari untuk menyambut tamu ( dan acara lainnya ) ini dikenal suku Dayak Tunjung dan Dayak Benuaq. Tari Gantar dibagi 3 versi : Gantar Rayatu, Gantar Busai dan Gantar Senak/ Kusak.

Tari Kancet Papatai ( Perang ).

Bagaimana gaya pahlawan Dayak Kenyah melawan musuh ? Bertarung lincah, gesit, dengan pekikan penuh semangat. Lagu Sak Paku diiringi alat musik Sampe menambah riuh pertunjukan. Penari Kancet Papatai berbusana suku Dayak Kenyah, lengkap dengan mandau, perisai dan baju perang.

Tari Kancet Lasan.

Suku Dayak Kenyah memuliakan burung Enggang. Tanda keagungan dan kepahlawanan. Seorang wanita merendah, berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh lantai. Gerak burung Enggang yang terbang melayang dan hinggap di dahan ditirukannya.

Tari Leleng.

Utan Along dipaksa kawin dengan pemuda yang tidak dicintainya. Ia melarikan diri ke hutan. Kisah ini ditarikan gadis Dayak Kenyah diiringi lagu Leleng.

Tari Hudoq.

Penari menggunakan topeng kayu menyerupai binatang buas. Daun pisang atau kelapa menutupi tubuhnya. Suku Dayak Bahau dan Modang, melalui tari Hudoq, memohon kekuatan ( pada Tuhan ) untuk mengatasi gangguan hama perusak dan berharap hasil panen yang melimpah. Ketika hasil panen cukup baik ( atau menyambut tahun tanam ) digelar lagi tari ucapan terima kasih ( syukur ). Topeng berbentuk wajah manusia dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Topeng lainnya berupa cadar manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

Tari Serumpai.

Serumpai ( sejenis seruling bambu ) mengiringi tarian suku Dayak Benuaq ( memohon bantuan Tuhan ) untuk menolak penyakit dan mengobati gigitan anjing gila.

Tari Belian Bawo.

Menolak penyakit, mengobati pasien, membayar nazar, semula berwujud ritual Belian Bawo. Setelah menjadi tarian, di pertunjukkan suku Dayak Benuaq di hadapan para tamu dan pengunjung kesenian.

Tari Kuyang.

Tari Belian dari suku Dayak Benuaq ini memohon pada Tuhan untuk mengusir hantu-hantu penunggu pohon besar dan tinggi, agar tidak mengganggu manusia atau penebang.

Tari Pecuk Kina.

Perpindahan suku Dayak dari Apo Kayan ( Kabupaten Bulungan ) ke Long Segar ( Kabupaten Kutai Barat ) selama bertahun-tahun digambarkan dalam tari ini.

Tari Datun.

10-20 gadis suku Dayak Kenyah membawakan tari kreasi Nyik Selung, kepala suku di Apo Kayan. Tari mensyukuri kelahiran cucu ini kemudian berkembang ke seluruh daerah suku Dayak Kenyah.

Tari Ngerangkau.

Tari adat suku Dayak Tunjung dan Benuaq ini untuk memperingati kematian warga mereka.  Alat penumbuk padi dibenturkan teratur dalam posisi mendatar sampai menimbulkan irama tertentu.

Tari Baraga Bagantar.

Mulanya, ritual merawat bayi dengan bantuan Nayun Gantar. Oleh suku Dayak Benuaq kemudian diubah menjadi tarian.

Tarian-tarian tersebut tak sesederhana penjelasannya. Jika saya berkesempatan ke Kalimantan, saya akan ceritakan lebih banyak lagi. Atau anda lebih dulu berangkat ke sana dan bercerita lebih detail ? Well ?

Written by Vitra AB

24/08/2011 at 16:37

Ditulis dalam tari tradisi

Tagged with

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.